ISIS Klaim Bom Bunuh Diri di Islamabad Pakistan yang Tewaskan 31 Orang

Garis polisi dipasang di dekat lokasi bom bunuh diri di Pakistan. (Anadolu Agency)

ISIS Klaim Bom Bunuh Diri di Islamabad Pakistan yang Tewaskan 31 Orang

Willy Haryono • 7 February 2026 17:24

Islamabad: Kelompok Islamic State (ISIS) mengklaim bertanggung jawab atas serangan bom bunuh diri di sebuah masjid Syiah di ibu kota Pakistan, Islamabad, yang menewaskan sedikitnya 31 orang dan melukai puluhan lainnya saat pelaksanaan salat Jumat.

Prosesi pemakaman sejumlah korban dijadwalkan berlangsung pada Sabtu ini. Dikutip dari France 24, Sabtu, 7 Februari 2026, ledakan tersebut menjadi yang paling mematikan di Islamabad sejak pemboman Hotel Marriott pada 2008.

Pejabat kota menyebutkan, 31 orang tewas dan 169 lainnya luka-luka akibat ledakan di Masjid Imam Bargah Qasr-e-Khadijatul Kubra yang terletak di pinggiran kota. Jumlah korban tewas diperkirakan masih dapat bertambah. Ledakan terjadi saat salat Jumat, ketika masjid dipadati jamaah.

“Pelaku dihentikan di gerbang dan kemudian meledakkan diri,” kata seorang sumber keamanan.

Seorang jamaah bernama Muhammad Kazim (52) mengatakan ledakan “sangat dahsyat” mengguncang bangunan ketika salat baru saja dimulai. Jamaah lainnya, Imran Mahmood, menuturkan terjadi baku tembak antara pelaku bom dan petugas keamanan sukarelawan masjid.

“Pelaku bom bunuh diri berusaha maju, tetapi salah satu relawan kami yang terluka menembaknya dari belakang dan mengenai pahanya,” ujar Mahmood. Setelah itu, pelaku “meledakkan bahan peledak”, tambahnya.

Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif berjanji bahwa pihak-pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut akan ditemukan dan diadili. Wakil Perdana Menteri Ishaq Dar menyebut serangan itu sebagai “kejahatan keji terhadap kemanusiaan dan pelanggaran terang-terangan terhadap prinsip-prinsip Islam."

Kekerasan sektarian

ISIS yang beraliran Sunni muncul di Irak dan Suriah, lalu dengan cepat membentuk “kekhalifahan” dengan mengklaim kekuasaan atas seluruh umat Islam, sekaligus menyingkirkan pengaruh al Qaeda.

Setelah terusir dari basis-basisnya di kota Raqqa di Suriah dan Mosul di Irak, kelompok ini mencari perlindungan di wilayah pedalaman kedua negara yang terfragmentasi tersebut. Hingga kini, ISIS masih mempertahankan keberadaan signifikan di Suriah dan Irak, sejumlah wilayah Afrika termasuk kawasan Sahel, serta di Afghanistan dan Pakistan.

Namun, sejak runtuhnya kekuatan utama mereka dan serangkaian kemunduran di Timur Tengah, kelompok ini mengadopsi taktik baru. Meski para militan ISIS di berbagai kawasan berbagi ideologi yang sama, tidak ada indikasi bahwa mereka saling bertukar senjata atau pendanaan.

Pemboman di Islamabad terjadi di tengah upaya pasukan keamanan Pakistan menghadapi peningkatan pemberontakan di provinsi-provinsi selatan dan utara yang berbatasan dengan Afghanistan.

Pakistan merupakan negara dengan mayoritas penduduk Sunni, tetapi komunitas Syiah mencakup sekitar 10 hingga 15 persen dari populasi dan kerap menjadi sasaran serangan di kawasan tersebut.

Serangan besar terakhir di Islamabad terjadi pada November lalu, ketika bom bunuh diri di luar sebuah pengadilan menewaskan 12 orang dan melukai puluhan lainnya, insiden pertama semacam itu di ibu kota dalam hampir tiga tahun.

Di Balochistan, serangan yang diklaim kelompok separatis pekan lalu menewaskan 36 warga sipil dan 22 personel keamanan. Hal itu memicu gelombang operasi balasan, di mana otoritas menyatakan hampir 200 militan tewas.

Serangan pada Jumat tersebut menjadi yang paling mematikan di ibu kota Pakistan sejak September 2008, ketika sebuah truk bermuatan bom bunuh diri menghancurkan sebagian Hotel Marriott bintang lima dan menewaskan sekitar 60 orang.

Baca juga:  Putin Kecam Serangan Bom di Islamabad, Siap Perkuat Kerja Sama dengan Pakistan

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)