Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei dipilih sebagai pemimpin tertinggi Iran yang baru. Foto: Anadolu
Faksi Garis Keras Tetap Pegang Kendali Penuh atas Iran
Fajar Nugraha • 10 March 2026 09:58
Dubai: Pada Senin, 9 Maret, Iran resmi menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi baru untuk menggantikan mendiang ayahnya, Ali Khamenei.
Penunjukan ini menegaskan bahwa faksi garis keras tetap memegang kendali penuh atas Teheran, sekaligus menutup peluang berakhirnya konflik di Timur Tengah dalam waktu dekat.
Kenaikan Mojtaba yang berusia 56 tahun terjadi di tengah ketegangan yang semakin meningkat. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, sebelumnya telah menyatakan penolakan terhadap sosok Mojtaba dan menuntut penyerahan diri tanpa syarat dari Iran. Trump bahkan memperingatkan bahwa pemimpin baru tersebut tidak akan bertahan lama tanpa persetujuan dari Washington.
Ketidakpastian politik di Teheran dan prospek perang yang berkepanjangan memicu kepanikan di pasar global. Penutupan Selat Hormuz, jalur krusial bagi seperlima pasokan minyak dunia, mengakibatkan harga minyak mentah jenis Brent melonjak hingga mendekati USD100 per barel.
Harga minyak sempat menyentuh angka USD119,50 (sekitar Rp2 juta), menandai kenaikan harian terbesar dalam sejarah. Bursa saham global mengalami penurunan tajam karena investor khawatir terhadap krisis energi jangka panjang yang dapat memicu inflasi tinggi. Sementara itu, Presiden Trump dilaporkan tengah mempertimbangkan opsi darurat untuk menstabilkan harga bahan bakar domestik, termasuk pelepasan cadangan minyak strategis.
Di dalam negeri, media pemerintah Iran menayangkan gelombang dukungan massa yang memenuhi jalan-jalan kota besar seperti Teheran dan Isfahan. Meskipun sebelumnya sempat terjadi kerusuhan domestik, saat ini faksi politik dan lembaga keamanan, termasuk Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), secara bulat menyatakan kesetiaan mereka kepada Mojtaba.
"Kami akan mematuhi panglima tertinggi hingga tetes darah terakhir," demikian pernyataan resmi dewan pertahanan Iran, seperti dikutip Channel News Asia, Selasa, 10 Maret 2026.
Namun, di balik dukungan tersebut, terdapat kekhawatiran dari kelompok aktivis dan masyarakat sipil yang merasa peluang perubahan politik di Iran semakin tertutup dengan kehadiran rezim baru yang lebih konservatif.
Pertempuran terus meluas ke luar perbatasan Iran. Turki melaporkan bahwa sistem pertahanan udara NATO berhasil menembak jatuh rudal balistik Iran yang melanggar ruang udara mereka. Sementara itu, Israel terus meningkatkan intensitas serangan udara di wilayah tengah Iran dan Beirut, Lebanon.
Hingga saat ini, data diplomatik mencatat sedikitnya 1.332 warga sipil Iran tewas dan ribuan lainnya luka-luka akibat serangan udara AS-Israel. Di pihak Israel, serangan balasan Iran telah menewaskan 11 orang. Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa serangan terhadap fasilitas penyulingan minyak di Iran berisiko mencemari pasokan air dan udara, yang berdampak buruk pada kesehatan anak-anak serta lansia.
(Kelvin Yurcel)