Gedung Putih Bantah Angkatan Laut AS Kawal Tanker di Selat Hormuz

Selat Hormuz jadi perairan penting dalam rute perdagangan minyak. Foto: Anadolu

Gedung Putih Bantah Angkatan Laut AS Kawal Tanker di Selat Hormuz

Muhammad Reyhansyah • 11 March 2026 18:18

Washington: Gedung Putih menyatakan bahwa Amerika Serikat (AS) tidak mengawal kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz, membantah klaim yang kini telah dihapus dari Menteri Energi AS Chris Wright.

Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan Angkatan Laut AS belum mengawal kapal tanker mana pun sejauh ini.

“Saya dapat mengonfirmasi bahwa Angkatan Laut AS belum mengawal tanker atau kapal apa pun saat ini, meskipun tentu saja itu merupakan salah satu opsi,” kata Leavitt kepada wartawan dalam konferensi pers ketika perang dengan Iran memasuki hari ke-11, dikutip dari TRT World, Rabu, 11 Maret 2026.

Leavitt mengatakan unggahan yang menyebut adanya pengawalan tanker telah dihapus dengan cepat dan menegaskan bahwa keputusan untuk mengerahkan pengawalan laut berada di tangan presiden.

“Itu adalah opsi yang telah dikatakan presiden akan benar-benar digunakan jika dan ketika diperlukan pada waktu yang tepat,” ujarnya.

Klarifikasi tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan di jalur pelayaran sempit dekat Iran yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Pengiriman melalui Selat Hormuz sebagian besar terhenti selama konflik berlangsung, mendorong harga minyak global melonjak tajam.

Leavitt mengatakan militer AS tengah menyusun opsi tambahan setelah arahan Presiden Donald Trump untuk memastikan selat tersebut tetap terbuka.

“Saya tidak akan menjelaskan seperti apa opsi tersebut, tetapi ketahuilah presiden tidak takut untuk menggunakannya,” katanya.

Ia menambahkan bahwa operasi militer saat ini berfokus pada penghancuran infrastruktur produksi rudal Iran serta aset militer lainnya.


Serangan Lebih Besar Diperkirakan

Leavitt mengatakan Trump yakin tujuan operasi militer dapat dicapai dengan cepat.

“Begitu tujuan keamanan nasional tercapai, harga minyak akan turun,” katanya, menambahkan bahwa presiden tetap yakin target tersebut akan tercapai dalam waktu singkat.

Pejabat pemerintahan mengatakan perencanaan operasi telah berlangsung selama beberapa minggu, termasuk penempatan rudal dan tambahan kapal perusak angkatan laut di kawasan tersebut.

Sementara itu Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan gelombang serangan berikutnya kemungkinan akan menjadi salah satu yang paling intens dalam perang ini.

Meski demikian, Gedung Putih menegaskan operasi akan berakhir ketika presiden sebagai panglima tertinggi menilai tujuan militer telah tercapai dan Iran berada dalam posisi menyerah sepenuhnya.

Untuk saat ini, Washington menyatakan prioritasnya adalah menjaga Selat Hormuz tetap terbuka tanpa memperluas konflik.

“Jika mereka melakukan apa pun untuk menghentikan aliran minyak atau barang melalui Selat Hormuz, mereka akan dihantam oleh militer paling kuat di dunia,” kata Leavitt.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)