Trump Klaim Akan Gelar Pembicaraan dengan Iran

Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Foto: Anadolu

Trump Klaim Akan Gelar Pembicaraan dengan Iran

Muhammad Reyhansyah • 30 January 2026 18:45

Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Kamis, 29 Januari 2026 menyatakan bahwa ia berencana menggelar pembicaraan dengan Iran.

“Saya telah (melakukan percakapan dengan Iran dalam beberapa hari terakhir), dan saya memang merencanakannya,” kata Trump kepada para wartawan di Kennedy Center, dikutip dari Anadolu, Jumat, 30 Januari 2026.

Trump kembali menegaskan bahwa saat ini “banyak kapal yang sangat besar dan sangat kuat” sedang berlayar menuju Iran.

“Akan sangat bagus jika kita tidak perlu menggunakannya,” ujarnya.

Ketika ditanya pesan apa yang ia sampaikan kepada Iran, Trump mengatakan, “Saya mengatakan dua hal kepada mereka: nomor satu, tidak ada nuklir, dan nomor dua, hentikan pembunuhan terhadap para demonstran.”

Sebelumnya pada hari yang sama, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan bahwa Amerika Serikat siap menggunakan “semua opsi” untuk mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir, sembari menegaskan Washington masih membuka ruang bagi penyelesaian diplomatik.

“Ketika Presiden Trump mengatakan kita tidak akan membiarkan Iran memiliki nuklir, bahwa Anda tidak akan memiliki bom nuklir, dia serius,” kata Hegseth dalam rapat kabinet bersama Trump. Ia menyinggung pengiriman pesawat pengebom B-2 dan menegaskan bahwa setiap pernyataan presiden diikuti dengan tindakan nyata.

“Hal yang sama berlaku untuk Iran saat ini, memastikan bahwa mereka memiliki semua opsi untuk membuat kesepakatan, dan bahwa mereka tidak boleh mengejar kemampuan nuklir,” ujar Hegseth.

Ia menambahkan bahwa Pentagon siap melaksanakan setiap arahan yang dikeluarkan Trump, sebagai sinyal bahwa opsi militer tetap berada di atas meja jika upaya diplomasi gagal.

“Kami akan siap memberikan apa pun yang diharapkan presiden dari Departemen Perang, seperti yang kami lakukan bulan ini,” katanya, merujuk pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh Amerika Serikat pada 3 Januari.

Sementara itu, para pejabat Iran bereaksi keras terhadap ancaman terbaru Trump, di tengah pergerakan armada militer AS menuju perairan Iran dan meningkatnya ketegangan antara kedua negara yang telah lama berseteru.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)