Ilustrasi anak dan orang tua. Foto: Pexels/Ketut Subiyanto
Pembatasan Gawai bagi Generasi Alfa Tidak Cukup, Orang Tua Harus Ikut Mitigasi
Muhamad Marup • 23 July 2026 13:28
Jakarta: Perkembangan teknologi yang semakin pesat serta lahirnya generasi alfa menuntut pola asuh yang lebih adaptif terhadap perubahan. Orang tua dituntut tak sekadar membatasi gawai, tetapi aktif memitigasi risiko kecanduan hingga perundungan siber (cyberbullying).
"Pendekatan yang paling sesuai adalah ketika orang tua mampu berperan sebagai digital mentor, bukan sekadar digital police," ujar Pakar Psikologi Universitas Airlangga (UNAIR), Primatia Yogi Wulandari, mengutip dari laman UNAIR, Kamis, 23 Juli 2026.
Dosen Fakultas Psikologi UNAIR itu mengatakan, tren media sosial kerap memicu parental burnout akibat standar pengasuhan yang tak realistis. Kondisi ini menuntut peningkatan literasi digital orang tua, khususnya dalam mengkritisi fenomena sharenting (membagikan konten anak).
"Sebelum mengunggah konten tentang anak, orang tua sebaiknya mempertimbangkan kepentingan terbaik anak, hak privasi, dan jejak digital yang akan tetap ada hingga mereka dewasa," jelasnya.
Primatia menegaskan bahwa investasi terbesar bangsa terletak pada kualitas hubungan keluarga, bukan fasilitas mahal. Peringatan ini menjadi momen penting bagi orang tua untuk kembali hadir utuh bagi anak.
Ilustrasi perlindungan anak. Foto: Pexels/Ron Lach
Ia menyebut, anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna, melainkan orang tua yang hadir. Menurutnya, orang tua harus meluangkan waktu tanpa gangguan gawai untuk mendengarkan dan mendampingi mereka."Keluarga yang aman adalah kunci membesarkan generasi cerdas dan sehat secara mental," tuturnya.
PP TUNAS
Secara terpisah, Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Wamen PPPA), Veronica Tan, menegaskan, Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP TUNAS) bukan untuk membuat anak anti terhadap konten-konten digital. Menurutnya, regulasi tersebut merupakan cara untuk mengatur konten dengan baik sesuai kebutuhan anak."Jadi bukan menghindar, tapi bagaimana me-manage-nya dengan baik," ujar Veronica, usai acara Festival Budaya Anak Indonesia, di Makara Art Center Universitas Indonesia (UI), Kamis, 23 Juli 2026.
Ia menegaskan, PP TUNAS merupakan langkah awal untuk mencegah kejahatan siber terhadap anak, seperti child grooming. PP TUNAS memberikan batasan yang jelas konten mana yang bisa diakses oleh anak. Veronica menambahkan, ruang digital memiliki dampak positif untuk membantu anak. Ruang digital juga sudah semakin masif sehingga sulit untuk dihindari.
"PP TUNAS ini betul kita perlu memberikan batasan, itu harus jelas. Tapi ruang digital itu bukan berarti sesuatu yang anti," jelasnya.