Istri Presiden Soekarno, Ratna Sari Dewi (kiri) saat Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 RI di Istana Negara. Foto: tangkapan layar Youtube Metro TV
Hadiri HUT ke-81 RI! Intip Kisah Inspiratif Istri Soekarno, Ratna Sari Dewi
Muhamad Marup • 17 August 2026 20:33
Jakarta: Kehadiran Ratna Sari Dewi di hadapan publik pada perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 RI sukses mencuri perhatian. Ratna Sari Dewi merupakan gadis berdarah Jepang yang kemudian menjadi Istri keenam Presiden Soekarno.
Ia menghadiri perayaan HUT dengan mengenakan kebaya bernuansa merah putih dalam balutan selendang batik di lengannya. Perpaduan pakaian yang sudah dari dulu menjadi ciri khasnya saat menemani Soekarno dalam kunjungan luar negeri.
Dalam pernikahan dengan Soekarno, ia dikaruniai anak bernama Kartika Sari Dewi Soekarno. Tetapi, kehidupan Ratna Sari Dewi tidak hanya seputar menjadi seorang istri presiden RI.
Lebih dari itu beliau adalah seorang pekerja keras yang banyak membantu dalam hubungan diplomasi antara Jepang dan Indonesia. Berikut adalah beberapa aspirasi Ratna Sari Dewi.
Pekerja Keras untuk Keluarga
Wanita cantik dan elegan memancarkan aura kemewahan dalam dirinya. Namun, hal tersebut mampu ia dapatkan setelah melewati beberapa rintangan kehidupan.Ratna Sari lahir pada 6 Februari 1940, di Tokyo, Jepang. Jauh sebelum menikah dengan Soekarno, Dewi merupakan seorang gadis yang membagi waktunya untuk belajar dan bekerja guna membantu perekonomian keluarga.
Menginjak usia remaja, Dewi memiliki ketertarikan pada bidang seni dan sastra sehingga membuat dirinya berkecimpung lebih dalam. Dewi mulai menekuni tarian klasik Jelang, bernyanyi hingga bermain drama di Sishere Hayakawa Art Production.
Tidak puas hanya dengan belajar seni, Dewi kemudian mulai belajar berbahasa Inggris. Keahliannya dalam bidang seni membawa Dewi yang berusia 19 tahun bekerja sebagai Geisha di Akasaka’s Copacabana, sebuah kelab malam elit di Tokyo.
Pada 16 Juni 1959 pebisnis bernama Masao Kubo memperkenalkan Bung Karno kepada Ratna di Hotel Imperial Tokyo. Perkenalan ini bertujuan agar Kubo dapat mengamankan proyek raksasa lewat dana rampasan Jepang untuk Indonesia.
Ratna yang dulunya merupakan pramuniaga asuransi mulai masuk ke pusaran kekuasaan pada usia 19 tahun.
Memperkuat Hubungan Diplomasi Indonesia-Jepang
Ratna yang dari dulu merupakan seorang pekerja keras kerap kali menyumbangkan banyak aspirasi untuk Indonesia. Ratna tidak hanya mendampingi Soekarno dalam hubungan diplomasi, ia juga memperkuat pengaruh Jepang di Indonesia.
Istri ke-6 Bung Karno, Ratna Sari Dewi Soekarno. (Foto: Instagram @dewisukarnooficial)
Berikut adalah beberapa aspirasi yang diberikan Ratna Sari ke Indonesia.
Pendamping Soekarno dalam kunjungan diplomasi
Tidak hanya memiliki paras yang cantik, Ratna Sari memiliki ketertarikan di bidang politik dan sangat ahli untuk bernegosiasi. Paras dan kepiawaiannya kemudian menjadikan dirinya pendamping Bung Karno dalam kunjungan diplomasi, seperti pada kunjungan diplomasi Duta Besar Italia dan BelandaAhli negosiasi
Presiden Soekarno dan Ratna Sari merupakan pasangan yang saling melengkapi. Bung Karno yang merupakan seorang seniman yang gemar melukis ditimpali oleh Ratna Sari yang mencintai seni. Kesamaan yang mereka miliki membawa keduanya mencapai sebuah prestasi luar biasaMenggunakan keahliannya dalam bernegosiasi, Ratna Dewi berhasil melobi Jepang sehingga koleksi Bung Karno yang dibukukan dicetak di Jepang. Kepiawaiannya berhasil memenuhi keinginan soekarno untuk mempublikasikan karyanya
Ketua Kehormatan Lembaga Persahabatan Indonesia-Jepang
Pada tahun 1964 Dewi berhasil terpilih untuk menjadi ketua kehormatan lembaga persahabatan indonesia Jepang. Dewi juga mendirikan komunitas Nadeshiko yang beranggotakan wanita-wanita Jepang yang menikah dengan orang IndonesiaSurat-Surat Dewi Soekarno
Sepeninggalan Soekarno pada tahun 1973, Dewi menerbitkan sembilan surat yang ditujukan kepada Presiden Soeharto yang sudah pernah dimuat oleh Vrij Nederland pada tanggal 16 Desember 1970.Surat tersebut merupakan bentuk kritik akan pemerintahan orde baru di bawah kepemimpinan Soeharto saat itu sehingga gagal terbit di era orde baru. Namun, surat-surat Dewi berhasil diterbitkan saat berakhirnya era orde baru pada tahun 1998 dan diberi judul Mencekik dengan Kain Sutera, Willem Oltmans en Dewi Sukarno (1998)
Menjadi Wanita Pebisnis
Ratna Sari Dewi kemudian berpindah ke berbagai negara di Eropa sebelum akhirnya memutuskan untuk pindah ke Jepang pada tahun 2008. Ratna Sari kemudian meniti karirnya sebagai seorang pebisnis yang aktif di bidang pakaian, perhiasan dan kosmetik. Dewi juga sering kali muncul sebagai juri di dalam TV Jepang.Ratna Sari Dewi berhasil dikenal tidak hanya sebagai seorang istri, namun juga seorang wanita yang memberi banyak aspirasi. Demikian beberapa fakta dan aspirasi dari Dewi Soekarno
(Yaumil Tianri Rahmi)