Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz sesumbar tidak akan keluar dari wilayah selatan Suriah. Foto: Anadolu
Mental Kolonial, Israel Tegaskan Tidak Akan Keluar dari Wilayah Selatan Suriah
Fajar Nugraha • 26 August 2026 07:49
Damaskus: Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz menyampaikan peringatan tegas kepada Suriah pada Selasa 25 Agustus 2026, dengan menegaskan bahwa pasukan IDF (Israel Defense Force) akan tetap berada di Suriah selatan "selama masih ada ancaman".
Katz melontarkan pernyataan tersebut saat mengunjungi pasukan Israel di Gunung Hermon, seraya mengatakan kepada Presiden transisi Suriah, Ahmed al-Sharaa, bahwa keberadaan IDF yang memantau Damaskus dari ketinggian harus menjadi pengingat sehari-hari.
"Pesannya juga jelas bagi Presiden Suriah: Saat Anda bangun pagi hari di istana di Damaskus, lalu menatap ke arah Gunung Hermon dan melihat IDF. Anda tahu bahwa kami berada di sini untuk melindungi komunitas dan perbatasan kami," tegas Katz, seperti dikutip dari Anadolu, Rabu 26 Agustus 2026.
"Itu adalah pesan terbaik. Selama ada ancaman, IDF akan tetap berada di sini demi menjamin keamanan kami. Itulah yang telah kami lakukan, dan itulah yang juga akan kami lakukan di masa mendatang," tambah Katz.
Katz juga menegaskan kembali alasan di balik serangan Israel pada 18 Agustus terhadap pangkalan udara Abu al-Duhur di Suriah barat laut, dengan menyatakan bahwa serangan itu dilancarkan untuk mencegah Turki mendapatkan pijakan militer di fasilitas tersebut.
"Kami bertindak untuk mencegah upaya Turki membangun pijakan di Suriah, yang membahayakan kepentingan keamanan Israel. Kami telah menegaskan hal itu secara gamblang. Kami akan tetap teguh pada sikap tersebut di masa mendatang," ujar Katz.
Suriah menolak pembenaran Israel tersebut, dengan menyatakan bahwa pangkalan itu sedang dipulihkan untuk digunakan oleh Angkatan Udara Suriah. Turki mengecam keras serangan itu, sementara utusan AS Tom Barrack menyebutnya sebagai "eskalasi yang tidak perlu".
Israel telah menguasai zona keamanan yang diperluas serta sejumlah posisi militer di wilayah Suriah selatan sejak pasukannya melintasi garis gencatan senjata menyusul jatuhnya pemerintahan Bashar al-Assad pada akhir tahun 2024.