Zakat. Foto: Ilustrasi Antara
Kolaborasi SDM hingga Integrasi Data Diperlukan untuk Optimalisasi Zakat
M Sholahadhin Azhar • 12 June 2026 18:43
Jakarta: Kolaborasi sumber daya manusia (SDM) hingga integrasi data diperlukan. Terutama, untuk mengoptimalisasi pemanfaatan potensi zakat di Indonesia.
“Potensi zakat Indonesia mencapai sekitar Rp340 triliun, namun realisasinya masih sekitar Rp44 triliun. Kolaborasi SDM, jaringan, serta integrasi data muzakki menjadi kunci untuk meningkatkan capaian tersebut,” kata Ketua BAZNAS RI, Sodik Mudjahid, dalam keterangan tertulis yang dikutip Jumat, 12 Juni 2026.
Hal itu diungkap Sodik dalam Leaders Talk 2026 di Tower BSI, Rabu, 10 Juni 2026. Agenda tersebut diinisiasi Forum Zakat (FOZ) bersama Perkumpulan Organisasi Pengelola Zakat (POROZ) dan BAZNAS.
Sebanyak 89 lembaga anggota FOZ turut hadir dalam forum yang berlangsung guyub dan khidmat tersebut. Dalam kesempatan itu, dipaparkan bahwa kolaborasi diperkuat melalui sinergi dengan sektor perbankan syariah.
Bank Syariah Indonesia (BSI) menyatakan komitmennya dalam mendukung digitalisasi pengelolaan zakat, termasuk pengembangan pusat digital yang dapat dimanfaatkan oleh BAZNAS daerah dan Organisasi Pengelola Zakat (OPZ). Langkah ini diharapkan mampu memperkuat efisiensi, transparansi, serta akuntabilitas pengelolaan dana zakat.
Baca Juga :
Baznas DKI Jakarta Salurkan Hewan Kurban di NTB
Sekretaris Umum POROZ, Angga Nugraha, menegaskan langkah penandatanganan nota kesepahaman (MoU) menjadi tonggak penting dalam menyatukan gerakan zakat nasional. “Potensi zakat yang sangat besar membutuhkan kesatuan langkah. MoU ini menjadi pijakan untuk memperkuat sinergi antar-lembaga,” kata Angga.
Dalam sesi keynote, Plt. Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kesejahteraan Sosial Kemenko Pemberdayaan Masyarakat RI, Dyah Tri Kumolosari, mengungkapkan bahwa sebanyak 2,2 juta jiwa masih berada dalam kondisi kemiskinan ekstrem. Ia menekankan bahwa penguatan kolaborasi zakat menjadi bagian penting dalam strategi pengentasan kemiskinan melalui pendekatan pemberdayaan berbasis data.
“Potensi zakat akan berdampak signifikan jika dikelola berbasis data dan terintegrasi. Fokus intervensi pada desa dan wilayah prioritas harus diperkuat untuk mendorong graduasi kemiskinan,” kata Dyah.
Diskursus dalam 'Zakat Talk' turut menyoroti pentingnya menurunkan ego sektoral antar lembaga. Direktur Zakat dan Wakaf Kementerian Agama RI, Waryono Abdul Ghafur, menegaskan kolaborasi menjadi prasyarat utama agar zakat dapat dikelola lebih efektif dan berdampak luas.

Zakat. Foto: Ilustrasi Antara
Sementara itu, Ketua Umum FOZ, Wildhan Dewayana, memperkenalkan pendekatan dual track activities dalam penguatan zakat nasional. Yakni, penguatan kinerja internal lembaga serta optimalisasi kinerja kolektif dalam ruang kolaborasi. Pendekatan ini ditopang oleh empat pilar utama: komunikasi, harmonisasi, integrasi, dan konektivitas ekosistem.
Isu integrasi data menjadi sorotan utama dalam sesi kedua bertajuk 'Harmoni Gerakan Zakat Melalui Data'. Forum ini menghasilkan komitmen bersama anggota FOZ untuk membangun platform dashboard pendataan zakat nasional. Penandatanganan nota kesepakatan terkait platform data tersebut menjadi langkah konkret menuju pengelolaan zakat yang lebih terintegrasi.
Ketua Bidang Inovasi dan Literasi FOZ, Eko Muliansyah, menekankan transformasi digital zakat tidak lagi berfokus pada pembangunan aplikasi semata. Melainkan, pada pembangunan ekosistem data bersama.
“Yang dibutuhkan saat ini bukan kesempurnaan sistem, melainkan kesediaan untuk memulai. Data yang terintegrasi akan mengubah tumpukan informasi menjadi lompatan dampak,” kata Eko.