Kualitas Udara TPA Jatiwaringin Memburuk, Dinkes Tangerang Imbau Warga Pakai Masker

Petugas PMI membagikan masker kepada pengendara yang melintas di sekitar lokasi kebakaran TPA Jatiwaringin, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (1/7/2026). ANTARA/Azmi Samsul M

Kualitas Udara TPA Jatiwaringin Memburuk, Dinkes Tangerang Imbau Warga Pakai Masker

Whisnu Mardiansyah • 3 July 2026 17:59

Tangerang: Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, Banten, meminta masyarakat setempat menggunakan masker guna mencegah terjangkit infeksi saluran pernapasan akut akibat paparan asap kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kecamatan Mauk. Dinkes mencatat 154 warga telah terpapar ISPA imbas kebakaran tersebut.

Kepala Dinkes Kabupaten Tangerang, Hendra Tarmizi, mengatakan selain pelayanan kesehatan dan pembagian masker, pihaknya juga mengumumkan setiap hari kepada masyarakat terdampak tentang cara menghindari infeksi saluran pernapasan atas akibat asap.

"Kita selain pelayanan kesehatan, kemudian bagi-bagi masker, satu lagi ada yang paling penting, kita woro-woro setiap hari, pagi dan sore kepada masyarakat yang terdampak itu tentang bagaimana cara menghindari infeksi saluran pernapasan atas akibat asap ini," kata Hendra Tarmizi di Tangerang, seperti dilansir Antara, Jumat, 3 Juli 2026.

Masyarakat juga dianjurkan tidak beraktivitas di sekitar lokasi kebakaran TPA Jatiwaringin, khususnya mereka di Kecamatan Rajeg, Sukadiri, dan Mauk. Selain itu, di tengah kondisi saat ini masyarakat tetap menjaga stamina tubuh, khususnya selama kemarau, agar tidak mudah terserang penyakit.

 



Hendra menjelaskan penerapan pola hidup bersih dan sehat menjadi cara utama menjaga kesehatan tubuh di berbagai kondisi, seperti saat kemarau dan kualitas udara buruk dampak asap kebakaran TPA Jatiwaringin.

"Masyarakat yang terdampak asap, segera jika ada asap itu segera hindari dengan berpindah lokasi. Jika tidak memungkinkan, usahakan pakai masker," katanya.

Hendra mengingatkan komplikasi pneumonia harus diwaspadai karena bisa menyebabkan kematian, terutama pada balita atau orang yang rentan.

"Yang paling penting dijaga jangan sampai mereka itu menjadi pneumonia. Kalau dia jadi pneumonia akan berbahaya, karena pneumonia pada balita atau orang yang bisa rentan bisa menyebabkan kematian," katanya.

Hingga kini, Dinkes belum menerima laporan mengenai gejala pneumonia dari ratusan warga yang terpapar ISPA akibat kebakaran tersebut.


Petugas dari pemadam kebakaran melakukan penyemprotan ke sejumlah titik api yang membakar area TPA Jatiwaringin, Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten, pada Rabu (2/7/2026). ANTARA/HO-Pemkab Tangerang


"Kalau baru ISPA sudah kita obati, Insyaallah enggak akan sampai ke pneumonia. Tapi kalau enggak ketemu, itu yang berbahaya. Mereka nanti bisa jadi pneumonia," kata dia.

Kementerian Lingkungan Hidup meminta masyarakat setempat menghindari paparan asap kebakaran TPA Jatiwaringin seiring dengan kondisi memburuknya kualitas udara. Konsentrasi partikulat halus di lokasi mencapai sekitar 1.000 mikrogram per meter kubik, jauh melampaui baku mutu harian nasional 55 meter kubik.

Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup KLH, Rasio Ridho Sani, mengatakan data pada stasiun pemantauan kualitas udara menunjukkan paparan polusi udara jenis PM2.5 di TPA Jatiwaringin melebihi ambang batas.

"Kami sampaikan tentu pada masyarakat yang berada di lokasi sekitar sini agar tetap menggunakan alat pelindung diri, termasuk menggunakan masker agar dampak pada kesehatan mereka bisa tertangani. Ini langkah-langkah kita sekarang," ucap Rasio Ridho Sani.

Nilai PM2.5 tercatat mencapai angka 1.000 dari baku mutu seharusnya 55, sedangkan untuk PM10 mencapai angka 750 dari baku mutu yang ideal di angka 75. Pihaknya juga mengukur parameter nitrogen oksida dan sulfur oksida yang timbul akibat kebakaran timbunan sampah di TPA Jatiwaringin.

"Partikulatnya SOx, NOx karena juga di sini yang terbakar di antaranya ada plastik dan sebagainya, tentu plastik kan juga berdampak ke kesehatan," ujarnya.

Menurut dia, polusi udara dampak kebakaran TPA Jatiwaringin lebih parah dibandingkan dengan kebakaran hutan dan lahan karena timbunan sampah yang terbakar mengandung biomassa dan gas metana.

"Karena dampak kualitas udaranya, pertama dia ada biomassa, ada gas metannya, kemudian kan ada plastik dan sebagainya," kata dia.

(Whisnu M)