Dolar AS. Foto: Anadolu
Dolar AS Stabil di Tengah Kekhawatiran Meningkatnya Konflik Timteng
Husen Miftahudin • 6 April 2026 09:20
Singapura: Dolar Amerika Serikat (AS) stabil pada perdagangan Senin, karena investor yang cemas menimbang meningkatnya konflik ti Timur Tengah (Timteng), dengan semua mata tertuju pada tenggat waktu terbaru dari Presiden AS Donald Trump untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Mengutip Investing.com, Senin, 6 April 2026, indeks dolar yang mengukur nilai mata uang AS terhadap enam mata uang saingannya, stabil dan berada di angka 100,2.
Adapun euro melemah 0,13 persen menjadi USD1,151 pada perdagangan awal, sementara poundsterling terakhir diperdagangkan pada USD1,3187.
Sementara itu, dolar Australia sukses menguat sebanyak 0,13 persen menjadi USD0,6893, berfluktuasi di dekat level terendah dalam dua bulan terakhir yang dicapai pada pekan lalu.
Dalam unggahan media sosial yang penuh kata-kata kasar pada Minggu Paskah, Trump mengancam akan menargetkan pembangkit listrik dan jembatan Iran pada Selasa, 7 April 2026, jika jalur air strategis tersebut tidak dibuka kembali. Ia menetapkan tenggat waktu tepat pada Selasa pukul 8 malam.
Karena sebagian besar Asia dan Eropa tutup untuk liburan pada Senin, likuiditas kemungkinan akan bergerak tipis, meskipun sentimen penghindaran risiko secara umum telah muncul di awal minggu.
| Baca juga: Dolar AS Naik Tipis, Pasar Valuta Asing Lesu |

(Dolar AS. Foto: Freepik)
Pasar global terguncang
Pasar global telah terguncang sejak perang AS-Israel dengan Iran pecah pada akhir Februari, dengan Teheran secara efektif menutup Selat Hormuz, jalur air utama yang mengangkut sekitar seperlima dari total konsumsi minyak dunia.
Hal itu menyebabkan harga minyak melonjak jauh di atas USD100 per barel, memicu kekhawatiran akan inflasi tinggi dan mengganggu prospek suku bunga di seluruh dunia. Kekhawatiran tentang dampak terhadap pertumbuhan ekonomi juga menjadi beban karena risiko stagflasi terus mengintai.
Para pedagang kini tidak lagi memperkirakan langkah kebijakan dari Federal Reserve hingga paruh kedua 2027, dibandingkan dengan ekspektasi dua kali penurunan suku bunga pada 2026 di awal tahun.
Data pekan lalu menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja AS tetap tenang pada Maret, meskipun para ekonom memperingatkan bahwa perang berkepanjangan di Timur Tengah menimbulkan risiko penurunan.