Research Director Prasasti Center for Policy Studies Gundy Cahyadi. Foto:Dok Prasasti
Emas Tembus Rekor, Investor Jangan Cuma Cari Keuntungan Instan
Eko Nordiansyah • 23 January 2026 22:00
Jakarta: Di tengah rekor baru harga emas Antam yang menembus angka Rp3 juta per gram pada Rabu 22 Januari 2026, Research Director Prasasti Center for Policy Studies, Gundy Cahyadi, menegaskan para investor untuk memandang emas sebagai instrumen jangka panjang bukan untuk mencari keuntungan secara instan.
Gundy menilai, pergeseran minat masyarakat ke emas di tengah ketidakpastian ekonomi global adalah respons yang rasional. Namun, ia menekankan bahwa emas bekerja paling efektif ketika ditempatkan sebagai bagian dari portofolio yang beragam.
"Emas itu bukan untuk menggantikan semua instrumen lain. Ia berfungsi sebagai penyangga ketika risiko membesar, bukan sebagai satu-satunya tujuan investasi," ujar Gundy, mengutip Jumat 23 Januari 2026.
.jpeg)
(Ilustrasi. Foto: Dok istimewa)
Emas jangkar stabilitas
Gundy mengatakan, pergeseran sebagian dana ke emas umumnya merupakan respon rasional terhadap situasi global yang penuh ketidakpastian. Hal tersebut tidak serta-merta menunjukkan melemahnya kepercayaan pada sistem keuangan.“Yang terjadi biasanya bukan pindah total, tetapi penyesuaian komposisi aset. Emas menjadi jangkar stabilitas, sementara instrumen lain tetap berperan menciptakan pertumbuhan nilai,” jelasnya.
Merespon tren Fear of Missing Out (FOMO) beli emas di kalangan investor menengah, Gundy memperingatkan bahwa esensi emas sebagai lindung nilai dapat hilang jika dibeli berdasarkan emosi atau sekadar mengikuti tren, sehingga masyarakat diimbau bijak dalam membeli.
“Kalau emas dibeli dengan harapan untung cepat, ia berubah menjadi alat spekulasi. Padahal peran utamanya justru untuk meredam risiko, bukan mengejarnya,” pungkasnya. (Surya Mahmuda)