Konflik Timur Tengah Jadi Peluang Indonesia Tingkatkan Ekspor

Mendag Budi Santoso. Foto: dok Biro Humas Kemendag.

Konflik Timur Tengah Jadi Peluang Indonesia Tingkatkan Ekspor

Husen Miftahudin • 5 March 2026 21:40

Jakarta: Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengatakan pemerintah dapat memanfaatkan peluang ekspor yang muncul ketika gangguan rantai pasok global mengubah peta perdagangan internasional.
 
Menurut Budi, dinamika geopolitik yang terjadi di wilayah Timur Tengah berpotensi menyebabkan terganggunya pasokan barang dari negara pemasok tertentu.
 
"Kalau krisis geopolitik itu biasanya akan mengubah peta perdagangan. Ketika global supply chain (rantai pasok global) terganggu, akan ada pasar yang kosong karena pemasoknya terhambat," kata Budi di Jakarta, dikutip dari Antara, Kamis, 5 Maret 2026.
 
Ia menjelaskan, kondisi tersebut dapat membuka peluang bagi negara lain, termasuk Indonesia, untuk mengisi kekosongan pasar di sejumlah negara tujuan ekspor.
 
Pemerintah, kata dia, akan memetakan negara-negara yang relatif tidak terdampak konflik geopolitik untuk dijadikan target ekspor baru. Langkah tersebut dilakukan agar pelaku usaha nasional tetap dapat memperluas pasar meskipun terjadi gangguan perdagangan global.
 

Baca juga: Tenang, Indonesia Sudah Amankan Pasokan Minyak hingga LPG dari Luar Timur Tengah


(Kondisi salah satu wilayah Iran setelah diserang Israel. Foto: Anadolu)
 

Pemerintah cari pasar ekspor alternatif

 
Budi mengatakan, Kementerian Perdagangan (Kemendag) juga akan berkoordinasi dengan para eksportir guna mengetahui secara langsung kendala yang dihadapi pelaku usaha. "Kami akan bertemu para eksportir untuk mengetahui secara teknis kira-kira masalahnya di mana," tegas dia.
 
Ia menambahkan, pemerintah belum dapat menghitung secara pasti potensi penurunan ekspor akibat situasi geopolitik global tersebut. Menurut Budi, perhitungan yang lebih akurat masih memerlukan masukan dari para pelaku usaha serta evaluasi terhadap kondisi perdagangan internasional.
 
Meski demikian, pemerintah terus memantau perkembangan situasi global agar aktivitas ekspor Indonesia tetap berjalan.
 
Budi menegaskan, pemerintah saat ini memetakan sejumlah negara tujuan ekspor yang relatif tidak terdampak konflik geopolitik untuk dijadikan pasar alternatif bagi produk Indonesia. "Kita harus mencari pasar lain ketika pasar tertentu terganggu," tutur dia.
 
Negara-negara di kawasan Asia Tenggara dan Afrika disebut berpotensi menjadi tujuan ekspor alternatif karena dinilai relatif tidak terdampak konflik geopolitik global saat ini. Pemerintah sendiri akan memanfaatkan program business matching untuk mempertemukan eksportir Indonesia dengan calon pembeli dari berbagai negara tersebut.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)