Presiden AS Donald Trump memberikan gestur kepalan tangan di Gedung Putih. (EPA-EFE)
Trump Tegaskan Serangan ke Iran Keputusannya Sendiri, Bukan Didorong Israel
Muhammad Reyhansyah • 4 March 2026 14:02
Washington: Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan timnya berupaya mengendalikan narasi terkait alasan di balik keputusan menyerang Iran, setelah diplomat utamanya menyiratkan bahwa AS baru bertindak setelah mengetahui Israel akan segera melancarkan serangan.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio sempat memicu kekhawatiran di kalangan politisi Partai Demokrat serta sebagian pendukung garis keras Trump ketika ia mengatakan: “Kami tahu akan ada aksi dari Israel.”
“Kami tahu itu akan memicu serangan terhadap pasukan Amerika, dan kami tahu jika kami tidak bertindak lebih dulu sebelum mereka melancarkan serangan, kami akan menderita korban yang lebih besar,” ujar Rubio kepada wartawan, merujuk pada Iran.
Dikutip dari Channel News Asia, Rabu, 4 Maret 2026, Gedung Putih kemudian mengklarifikasi pernyataan tersebut, menegaskan bahwa Trump mengesahkan serangan karena Teheran dinilai tidak serius dalam bernegosiasi soal pembatasan ambisi nuklirnya, dan AS perlu menghancurkan kemampuan rudal Iran.
Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt menulis di media sosial bahwa Rubio tidak pernah menyatakan Israel menyeret Trump ke dalam perang.
Dalam pertemuan di Ruang Oval dengan Kanselir Jerman Friedrich Merz, Trump menegaskan bahwa berdasarkan jalannya negosiasi, ia menilai Iran kemungkinan akan menyerang lebih dulu.
“Kalau ada yang memaksa, mungkin justru saya yang memaksa tangan Israel,” kata Trump.
Rubio pada Selasa kembali menegaskan posisinya setelah bertemu anggota DPR dan Senat AS.
“Tidak, saya sudah katakan ini memang harus terjadi,” ujarnya. “Presiden membuat keputusan bahwa Iran tidak akan diizinkan berlindung di balik kemampuan untuk melakukan serangan.”
Namun, para pengkritik menilai pesan yang berubah-ubah dari pemerintahan menunjukkan kurangnya alasan yang jelas, serta absennya konsultasi dengan Kongres mengenai langkah militer tersebut.
Mereka juga menyoroti bahwa dua pekan sebelumnya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali mendesak Trump di Washington untuk mengambil sikap keras terhadap Iran, pertemuan ketujuh mereka sejak Trump kembali berkuasa tahun lalu.
Risiko Politik Jelang Pemilu
Sejumlah sekutu Partai Republik membela presiden. Senator Tom Cotton, Ketua Komite Intelijen Senat, menyatakan “tidak ada yang mendorong atau menyeret Donald Trump ke mana pun.”“Ia bertindak demi kepentingan vital keamanan nasional Amerika Serikat,” katanya dalam acara Fox & Friends.
Namun, menjelang pemilu sela yang mengancam mayoritas Republik, Trump berisiko kehilangan pendukung setianya, terutama mereka yang mendambakan berakhirnya intervensi militer luar negeri.
Marjorie Taylor Greene, tokoh sayap kanan populis yang sebelumnya sekutu dekat Trump, menulis bahwa Amerika kini terpecah antara mereka yang ingin berperang demi Israel dan mereka yang menginginkan perdamaian serta stabilitas ekonomi dalam negeri.
Polemik ini menunjukkan bahwa selain dampak geopolitik, keputusan menyerang Iran juga membawa konsekuensi politik domestik yang signifikan bagi Trump.
Baca juga: Netanyahu Bantah Dorong Trump untuk Memulai Perang dengan Iran