Kemlu Pastikan Belum Ada WNI Terdampak Gelombang Panas Ekstrem Eropa

Direktur Pelindungan WNI Kemlu RI Heni Hamidah. Foto: Metrotvnews.com

Kemlu Pastikan Belum Ada WNI Terdampak Gelombang Panas Ekstrem Eropa

Muhammad Reyhansyah • 1 July 2026 13:26

Jakarta: Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI memastikan hingga saat ini belum ada warga negara Indonesia (WNI) yang dilaporkan terdampak gelombang panas ekstrem yang melanda sejumlah negara di Eropa dalam beberapa pekan terakhir.

Direktur Pelindungan WNI Kemlu RI Heni Hamidah mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan seluruh perwakilan Indonesia di kawasan Eropa untuk memantau perkembangan situasi serta memastikan kondisi para WNI tetap aman.

"Untuk heatwave (gelombang panas) di Eropa, kita sudah berkoordinasi dengan perwakilan-perwakilan kita di sana. Dan sampai saat ini belum ada WNI yang terdampak. Yang melaporkan atau menjadi korban dari heatwave itu belum," kata Heni kepada awak media di Jakarta, Rabu, 1 Juli 2026.

Meski belum menerima laporan adanya WNI yang menjadi korban, Heni mengatakan seluruh perwakilan RI di berbagai negara Eropa telah membuka layanan hotline serta menyampaikan imbauan kewaspadaan kepada para WNI.

Menurutnya, langkah tersebut dilakukan sebagai upaya mitigasi mengingat gelombang panas masih melanda sejumlah negara di kawasan tersebut.

"Namun demikian, semua perwakilan di Eropa ini membuka hotline dan juga menyampaikan kepada para WNI untuk waspada melakukan langkah-langkah agar tidak terlalu terdampak dengan kondisi heatwave di Eropa tersebut," ujarnya.

Heni menambahkan Kemlu masih melakukan pendataan terkait jumlah WNI yang berada di kawasan Eropa.

Gelombang panas yang melanda Eropa sejak pertengahan Juni telah memicu suhu di atas 40 derajat Celsius di sejumlah negara, termasuk Prancis, Jerman, Republik Ceko, Polandia, dan Hungaria. Kondisi cuaca ekstrem tersebut juga meningkatkan risiko kebakaran hutan, mengganggu transportasi dan pasokan energi di beberapa wilayah.

Di Prancis, otoritas kesehatan melaporkan sekitar 1.000 kematian berlebih (excess deaths) yang diduga berkaitan dengan gelombang panas. Mayoritas korban merupakan warga lanjut usia, sementara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa kejadian serupa diperkirakan akan semakin sering terjadi akibat perubahan iklim.

(Fajar Nugraha)