Ilustrasi. Foto: Freepik.
Pertumbuhan Ekonomi Banyak Negara Terkoreksi Imbas Konflik AS-Iran
Naufal Zuhdi • 12 April 2026 12:30
Jakarta: Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi banyak negara akan mengalami koreksi lebih lanjut lebih dalam lagi dibandingkan dengan prediksi sebelumnya dengan masih berlanjutnya tensi geopolitik antara Iran vs Israel-AS.
“Karena kondisi perang ini meningkatkan inflasi global dan mengganggu rantai pasok dan juga berarti mengganggu sistem perdagangan sehingga volume perdagangan terganggu kemudian harga barang-barang yang diperdagangkan itu juga jadi lebih mahal dan juga mengganggu iklim investasi dari sisi stabilitas keamanannya,” ucap Faisal saat dihubungi, Minggu, 12 April 2026.
Faisal menambahkan, ketika harga berbagai barang mengalami kenaikan, hal itu akan berimplikasi terhadap daya beli dan konsumi masyarakat yang pasti akan mengalami kenurunan. Hal ini otomatis berpengaruh pada berkurangnya produksi dari para produsen dan mengakibatkan penurunan pertumbuhan ekonomi global secara keseluruhan, termasuk Indonesia.
“Walau kalau dari CORE sendiri tahun ini kita masih memprediksikan di 4,9-5,1 persen pertumbuhan ekonominya. (Apabila eskalasi geopolitik berlanjut) kemungkinan (pertumbuhan ekonomi) akan berada di batas bawah 4,9 persen di bawah lima persen bahkan kalau lebih panjang lagi ini bisa jatuh di bawah 4,9 persen,” ungkapnya.
.jpg)
(Ilustrasi. Foto: Dok MI)
Bank Dunia pangkas proyeksi ekonomi RI
Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 sebesar 4,7 persen. Angka ini turun dari perkiraan sebelumnya 4,8 persen, demikian laporan East Asia and Pacific Economic Update edisi April 2026 yang dirilis pada Rabu.Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan proyeksi pertumbuhan kawasan Asia Timur dan Pasifik (EAP) yang hanya 4,2 persen. Asia Timur dan Pasifik mencakup Kamboja, China, Indonesia, Laos, Malaysia, Mongolia, Myanmar, Papua Nugini, Filipina, Thailand, Timor-Leste, Vietnam, dan Negara-Negara Kepulauan Pasifik.
Kepala Ekonom Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik Aaditya Mattoo mengatakan, prospek kawasan dipengaruhi tiga faktor eksternal Utama yaitu konflik di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga energi, pembatasan perdagangan di Amerika Serikat serta ketidakpastian kebijakan global, dan perkembangan positif berupa ledakan teknologi kecerdasan buatan (AI).
“Kami menilai Indonesia relatif tangguh karena ketergantungan terhadap impor minyak, misalnya, lebih rendah dibandingkan negara lain,” kata Mattoo dalam wawancara daring dikutip dari Antara, Kamis, 9 April 2026.
Laporan tersebut mencatat impor bersih minyak dan gas Indonesia pada 2024 hanya sekitar satu persen dari produk domestik bruto (PDB), sementara Thailand mencapai tujuh persen, Filipina tiga persen, dan Vietnam dua persen.
Meski demikian, guncangan global diyakini tetap berdampak pada Indonesia, terutama melalui kenaikan harga minyak yang menambah beban fiskal akibat subsidi dan kompensasi energi.
Tekanan inflasi dinilai berpotensi meningkat seiring kenaikan harga minyak, lonjakan harga pupuk yang mendorong biaya pangan, serta kenaikan harga semikonduktor yang berimbas pada keseluruhan rantai nilai.