Gunung Anak Krakatau melontarkan lava fountain atau lava air mancur pukul 23.24 WIB, Jumat malam, 4 September 2026 . ANTARA/HO-Badan Geologi
Anak Krakatau Erupsi, Badan Geologi Minta Warga Tak Panik
Roni Kurniawan • 5 September 2026 14:08
Bandung: Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda kembali erupsi pada Sabtu, 5 September 2026. Aktivitas erupsi berlangsung menerus sejak pukul 23.07 WIB hingga setidaknya pukul 04.40 WIB.
Kepala Badan Geologi Lana Saria meminta masyarakat tetap tenang dan tidak panik menyikapi aktivitas Gunung Anak Krakatau. Masyarakat diminta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi, khususnya terkait potensi tsunami.
"Kami mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak panik. Berdasarkan hasil evaluasi hingga saat ini, pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pasca-erupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami," ujar Lana di Bandung, Sabtu, 5 September 2026.
Lana menjelaskan suara dentuman dan getaran yang dilaporkan terdengar serta dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah Jawa Barat, Banten, dan Lampung. Fenomena tersebut diduga berkaitan dengan aktivitas erupsi yang berlangsung pada waktu yang sama.
"Erupsi menerus dalam durasi beberapa jam yang berasosiasi dengan erupsi lava air mancur merupakan fenomena yang umum terjadi. Suara dentuman dan getaran yang dirasakan masyarakat diduga kuat berkaitan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau pada waktu yang sama," jelas Lana.
Saat ini, status aktivitas Gunung Anak Krakatau berada pada Level III atau Siaga. Status tersebut telah ditetapkan sejak 2 Juli 2026.
Dengan kondisi tersebut, masyarakat diminta mewaspadai sejumlah potensi bahaya erupsi, seperti aliran lava, lontaran batu pijar, awan panas, hingga hujan abu vulkanik. Sebaran abu vulkanik juga dapat mengganggu jarak pandang dan kesehatan.
"Masyarakat kami minta tetap waspada terhadap potensi bahaya erupsi, termasuk sebaran abu vulkanik, namun tidak perlu panik. Apabila terjadi hujan abu, masyarakat di wilayah terdampak diimbau menggunakan pelindung pernapasan dan mengikuti arahan resmi dari Badan Geologi, PVMBG, serta BPBD setempat," ungkap Lana.
Untuk keselamatan, masyarakat, pengunjung, wisatawan, maupun pendaki dilarang memasuki atau melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau.
"Radius tiga kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau harus dikosongkan dari aktivitas masyarakat, pengunjung, wisatawan, maupun pendaki. Ketentuan ini perlu dipatuhi karena potensi aliran lava dan lontaran material pijar masih dapat terjadi," tegas Lana.

Ilustrasi Gunung Anak Krakatau. Foto: Antara.
Sementara itu, masyarakat di wilayah pesisir Banten dan Lampung diimbau tetap beraktivitas seperti biasa dengan memperhatikan perkembangan informasi resmi dari pemerintah.
Berdasarkan pemantauan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), erupsi disertai suara gemuruh yang terdengar hingga Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau di Pasauran, Banten.
Secara visual, terlihat semburan berwarna merah menyala yang berlangsung terus-menerus. Tinggi kolom erupsi belum dapat dipastikan. Namun, karakter semburan tersebut menyerupai fenomena lava fountain atau lava air mancur yang berpotensi menghasilkan aliran lava.