Digilas Euro hingga Yen, Dolar AS Tak Berdaya

Dolar AS. Foto: Marketplace.org

Digilas Euro hingga Yen, Dolar AS Tak Berdaya

Husen Miftahudin • 31 October 2026 10:43

New York: Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) melemah terhadap sejumlah mata uang utama dunia pada perdagangan Jumat waktu setempat. Pelemahan terjadi di tengah tekanan pasar keuangan global, meskipun dolar masih mendapat dukungan dari permintaan aset aman (safe haven) akibat meningkatnya ketidakpastian geopolitik.

Mengutip Xinhua, Sabtu, 31 Oktober 2026, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia turun 0,16 persen menjadi 101,878 pada pukul 15.00 waktu setempat atau 19.00 GMT.

Di sisi lain, imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun turun 1,4 basis poin. Penurunan tersebut mengurangi daya tarik dolar dari sisi selisih suku bunga terhadap mata uang negara lain.

Pada penutupan perdagangan di New York, euro menguat menjadi USD1,1167 dari sebelumnya USD1,1162. Poundsterling Inggris juga naik menjadi USD1,3394 dibandingkan posisi sebelumnya USD1,3361.

Sebaliknya, dolar AS melemah terhadap yen Jepang. Mata uang Negeri Paman Sam tersebut diperdagangkan pada level 157,37 yen, turun dari 157,96 yen pada sesi sebelumnya.

Dolar AS juga terkoreksi terhadap franc Swiss menjadi 0,8236 dari sebelumnya 0,8264. Terhadap dolar Kanada, greenback turun menjadi 1,3956 dari 1,3986.

Pelemahan juga terjadi terhadap krona Swedia. Dolar AS turun menjadi 9,8170 krona dari posisi sebelumnya 9,8608 krona.
 

 

Tertekan ketegangan Timur Tengah


Mengutip Barchart.com, dolar AS masih memperoleh dukungan sebagai aset aman di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Kekhawatiran pasar berkaitan dengan potensi serangan kelompok Houthi terhadap Arab Saudi serta spekulasi mengenai kemungkinan AS kembali melancarkan operasi militer terhadap Iran setelah pemilihan paruh waktu pada Selasa, 3 November 2026.

The Wall Street Journal melaporkan pada Kamis, seorang komandan senior militer AS telah memberikan pengarahan kepada Presiden Donald Trump mengenai sejumlah opsi militer terhadap Iran.

Meski demikian, tekanan dari penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS membatasi penguatan dolar di pasar valuta asing.


(Ilustrasi mata uang euro. Foto: Magnific)
 

Pertumbuhan ekonomi Zona Euro lampaui ekspektasi


Dari kawasan Eropa, pertumbuhan ekonomi Zona Euro pada kuartal III tercatat lebih kuat dibandingkan perkiraan pasar. Produk domestik bruto (PDB) Zona Euro tumbuh 0,4 persen secara kuartalan dan 1,3 persen secara tahunan. Realisasi tersebut melampaui ekspektasi pasar yang memperkirakan pertumbuhan masing-masing sebesar 0,2 persen dan 1,1 persen.

Di tengah perkembangan tersebut, anggota Dewan Gubernur Bank Sentral Eropa (ECB) sekaligus Gubernur Bank Sentral Italia Fabio Panetta menyampaikan kemungkinan perlunya kenaikan suku bunga lebih lanjut untuk mengendalikan inflasi.

"Dengan inflasi yang diperkirakan akan tetap di atas target untuk jangka waktu yang lama dan risiko yang cenderung meningkat, kenaikan lebih lanjut dalam suku bunga kebijakan mungkin diperlukan," ujarnya.

Sebelumnya, dalam pertemuan Kamis, ECB memutuskan mempertahankan suku bunga fasilitas simpanan di level 2,50 persen, sesuai dengan ekspektasi pasar.

Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin mencapai 81 persen pada pertemuan kebijakan ECB berikutnya yang dijadwalkan berlangsung pada 17 Desember 2026.

(Husen Miftahudin)