Ilustrasi. Dok MI
Industri Pengolahan Penopang Terbesar Pertumbuhan Ekonomi RI Kuartal III-2026
Gervin Nathaniel Purba • 5 November 2026 12:49
Jakarta: Pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,47 persen (year-on-year/yoy) pada kuartal III 2026. Penopang terbesarnya berasal dari industri pengolahan atau manufaktur dari sisi lapangan usaha dengan andil 1,20 persen.
“Jadi, dari pertumbuhan ekonomi sebesar 5,47 persen, sebanyak 1,20 poin persentase berasal dari industri pengolahan,” kata Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik Badan Pusat Statistik (BPS) Edy Mahmud, dikutip dari Antara, Kamis, 5 November 2026.
Industri logam dasar yang tumbuh 9,94 persen juga berkontribusi terhadap kinerja industri pengolahan. Didukung oleh peningkatan ekspor logam dasar bukan besi dan baja, seperti katoda tembaga, nickel matte, dan aluminium.
Pada sektor lapangan usaha perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor tumbuh tinggi mencapai 7,14 persen. Lebih tinggi dibandingkan kuartal III 2025 sebesar 5,46 persen dan kuartal 3-2024 sebesar 4,85 persen, seiring meningkatnya aktivitas perdagangan.
Pertumbuhan sektor tersebut didorong oleh peningkatan penjualan kendaraan bermotor. Terutama kendaraan niaga dan kendaraan listrik, serta peningkatan suplai barang domestik, khususnya barang industri pengolahan dan barang impor.
Sementara itu, sektor konstruksi mampu tumbuh hingga 6,42 persen. Pertumbuhan tersebut melampaui angka kuartal III-2025 sebesar 4,21 persen.
Kenaikan ini utamanya didorong oleh pembangunan proyek infrastruktur oleh pemerintah dan swasta, termasuk pembangunan program prioritas pemerintah seperti Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), perumahan rakyat, Sekolah Rakyat, Sekolah Garuda, dan revitalisasi sekolah.
Selanjutnya, sektor informasi dan komunikasi tumbuh 7,13 persen, sejalan dengan peningkatan aktivitas telekomunikasi seperti peningkatan traffic data, penggunaan layanan data center, dan peningkatan transaksi Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (PMSE).
“Jadi, dari pertumbuhan ekonomi sebesar 5,47 persen, sebanyak 1,20 poin persentase berasal dari industri pengolahan,” kata Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik Badan Pusat Statistik (BPS) Edy Mahmud, dikutip dari Antara, Kamis, 5 November 2026.
Selain industri pengolahan, ada sektor perdagangan yang berkontribusi sebesar 0,94 persen, konstruksi sebesar 0,62 persen, serta sektor informasi dan komunikasi sebesar 0,49 persen.
Bila dirinci, sektor industri pengolahan tumbuh solid hingga 5,87 persen di atas angka pertumbuhan ekonomi nasional. Pertumbuhan itu didorong oleh permintaan domestik dan luar negeri.
Secara subsektor, kinerja positif industri pengolahan salah satunya ditopang oleh industri makanan dan minuman (mamin) yang tumbuh sebesar 7,09 persen. Hal ini didukung oleh peningkatan ekspor Crude Palm Kernel Oil (CPKO) dan turunan CPO serta pemanfaatannya di dalam negeri untuk produksi biodiesel.
Selanjutnya, industri kimia, farmasi, dan obat tradisional tumbuh 8,10 persen. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan produksi Fatty Acid Methyl Ester (FAME) dan peningkatan produksi pupuk menjelang musim tanam.
Bila dirinci, sektor industri pengolahan tumbuh solid hingga 5,87 persen di atas angka pertumbuhan ekonomi nasional. Pertumbuhan itu didorong oleh permintaan domestik dan luar negeri.
Secara subsektor, kinerja positif industri pengolahan salah satunya ditopang oleh industri makanan dan minuman (mamin) yang tumbuh sebesar 7,09 persen. Hal ini didukung oleh peningkatan ekspor Crude Palm Kernel Oil (CPKO) dan turunan CPO serta pemanfaatannya di dalam negeri untuk produksi biodiesel.
Selanjutnya, industri kimia, farmasi, dan obat tradisional tumbuh 8,10 persen. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan produksi Fatty Acid Methyl Ester (FAME) dan peningkatan produksi pupuk menjelang musim tanam.
(ilustrasi: Dok. Metrotvnews.com)
Sektor industri logam dasar tumbuh 9,94%
Industri logam dasar yang tumbuh 9,94 persen juga berkontribusi terhadap kinerja industri pengolahan. Didukung oleh peningkatan ekspor logam dasar bukan besi dan baja, seperti katoda tembaga, nickel matte, dan aluminium.
Pada sektor lapangan usaha perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor tumbuh tinggi mencapai 7,14 persen. Lebih tinggi dibandingkan kuartal III 2025 sebesar 5,46 persen dan kuartal 3-2024 sebesar 4,85 persen, seiring meningkatnya aktivitas perdagangan.
Pertumbuhan sektor tersebut didorong oleh peningkatan penjualan kendaraan bermotor. Terutama kendaraan niaga dan kendaraan listrik, serta peningkatan suplai barang domestik, khususnya barang industri pengolahan dan barang impor.
Sementara itu, sektor konstruksi mampu tumbuh hingga 6,42 persen. Pertumbuhan tersebut melampaui angka kuartal III-2025 sebesar 4,21 persen.
Kenaikan ini utamanya didorong oleh pembangunan proyek infrastruktur oleh pemerintah dan swasta, termasuk pembangunan program prioritas pemerintah seperti Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), perumahan rakyat, Sekolah Rakyat, Sekolah Garuda, dan revitalisasi sekolah.
Selanjutnya, sektor informasi dan komunikasi tumbuh 7,13 persen, sejalan dengan peningkatan aktivitas telekomunikasi seperti peningkatan traffic data, penggunaan layanan data center, dan peningkatan transaksi Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (PMSE).