Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Foto: Anadolu
Adanya Ancaman Buat Trump Tarik Pesawat Pengebom dari Pangkalan di Inggris
Fajar Nugraha • 6 October 2026 05:25
Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Senin 5 Oktober 2026 membenarkan bahwa adanya ancaman telah mendorong AS untuk menarik pesawat-pesawat pengebomnya dari sebuah pangkalan udara Inggris, serta mengisyaratkan kemungkinan adanya kaitan dengan Iran.
"Ya, saya rasa kita bisa mengatakan demikian. Maksud saya, pesawat-pesawat itu tidak terbang keluar secara kebetulan," ujar Trump kepada para wartawan di Gedung Putih sebelum bertolak ke kampanye di Nebraska, dikutip dari Anadolu, Selasa 6 Oktober 2026."Ada sejumlah ancaman, dan daripada memancing musuh, kami akan menangkap dan mengalahkan musuh tersebut," kata Trump.
"Namun, mengapa kami harus membiarkan mereka tetap di sana? Jadi, kami memindahkan posisinya sedikit, tidak terlalu jauh,” imbuh Trump.
Trump mengatakan bahwa pemindahan pesawat tersebut "hanya memakan sedikit biaya."
"Kami menghadapi ancaman, dan jika kami diancam, kami tinggal memindahkan pesawat-pesawat itu, dan langkah itu sedikit banyak meredakan situasi tersebut," ujar Trump, seraya menambahkan: "Kami sebenarnya mengetahui siapa pihak yang melontarkan ancaman itu."
Saat ditanya apakah ada risiko Iran telah memasukkan pesawat nirawak (drone) tempur ke Inggris, ia menjawab: "Saya tidak bisa mengungkapkannya kepada Anda, namun jika mereka melakukannya, mereka akan menanggung akibat yang sangat berat."
Ketika ditanya kembali mengenai ancaman tersebut, Trump mengisyaratkan: "Hal itu mungkin berkaitan dengan Iran."
AS menarik seluruh pesawat pengebom B-1 yang ditempatkan di RAF Fairford, Inggris, menyusul sebuah insiden keamanan yang menargetkan fasilitas tersebut, demikian dilaporkan The Wall Street Journal pada hari Minggu.
Pemindahan kembali belasan pesawat B-1 itu dilakukan setelah polisi antiterorisme Inggris menangkap enam tersangka yang diduga terlibat dalam rencana serangan terhadap pangkalan tersebut—sebuah rencana yang menurut pejabat AS dan Inggris telah digagalkan pada 27 September.