3.663 Titik Panas Kepung Sumatra, Kabut Asap Selimuti Pekanbaru

Kabut asap. (MI)

3.663 Titik Panas Kepung Sumatra, Kabut Asap Selimuti Pekanbaru

Rudi Kurniawansyah • 13 October 2026 11:39

Pekanbaru: Jumlah titik panas (hotspot) indikator kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pulau Sumatra terus melonjak. Berdasarkan pantauan satelit terbaru, terdeteksi 3.663 titik panas di Sumatra, dengan Provinsi Sumatra Selatan (Sumsel) menjadi penyumbang terbanyak, yakni 2.559 titik.

Forecaster on Duty Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru, Gita Dewi, merinci sebaran titik panas tersebut. Selain Sumsel, titik panas yang masif juga terpantau di Lampung (471 titik), Jambi (326 titik), dan Bangka Belitung (287 titik). Sisanya tersebar di Bengkulu (15 titik), Riau (empat titik), serta Sumatra Barat (satu titik).

"Sehingga total jumlah titik panas di Sumatra mencapai 3.663 titik," ujar Gita, Selasa, 13 Oktober 2026.

Khusus di wilayah Riau, empat titik panas terdeteksi di tiga kabupaten. Rinciannya, Kabupaten Indragiri Hilir mencatatkan dua titik panas, sedangkan Kabupaten Siak dan Pelalawan masing-masing menyumbang satu titik panas.

Peningkatan titik panas ini berdampak langsung pada kondisi udara di ibu kota Provinsi Riau. Kabut asap karhutla di Kota Pekanbaru pada Selasa pagi terpantau semakin pekat, kendati wilayah tersebut kerap diguyur hujan selama beberapa hari terakhir.

Kabut asap. (MI)

Berdasarkan data Particulate Matter (PM2.5) di situs resmi BMKG pada pukul 09.00 WIB, kualitas udara di Pekanbaru berada pada kategori tidak sehat, menyentuh angka 82,1 mikrogram per meter kubik (µg/m³).

Kondisi ini memicu keresahan warga. Rahayu, seorang ibu rumah tangga di Pekanbaru, mengaku khawatir dengan keselamatan anaknya yang harus bersekolah di tengah kepungan asap pekat.

"Saya sedih saat mengantarkan anak ke sekolah karena harus belajar tatap muka sementara kondisi kabut asap sangat tebal pagi ini. Hanya kepada negara kami meminta tolong. Tolonglah untuk segera hentikan kabut asap ini. Jangan bunuh kami semua di sini berbulan-bulan menghirup asap karhutla," tegas Rahayu.

(Lukman Diah Sari)