PLN menggelar Green Energy Partnership Forum 2026 untuk memperkuat kolaborasi dan layanan listrik hijau terverifikasi bagi pelanggan industri. (dok. PLN)
Jaga Daya Saing Industri RI di Pasar Global, PLN Perkuat Kredibilitas Listrik Hijau Terverifikasi
Patrick Pinaria • 9 October 2026 19:44
Jakarta: Tuntutan dekarbonisasi di pasar global mendorong industri nasional untuk semakin memperhatikan penggunaan energi bersih. Menjawab kebutuhan tersebut, PT PLN (Persero) memperkuat layanan listrik hijau terverifikasi guna mendukung daya saing produk Indonesia melalui pasokan listrik berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT) yang kredibel, akuntabel, dan bersih.
Upaya ini diperkuat melalui Green Energy Partnership Forum 2026 yang digelar di Jakarta pada Rabu, 7 Oktober 2026. Dalam forum tersebut, PLN berkolaborasi dengan mitra strategis, antara lain Climate Group (RE100), World Resources Institute (WRI) Indonesia, dan Rumah PATEN. Kegiatan ini dihadiri 59 korporasi green buyers yang memiliki perhatian terhadap pemanfaatan energi bersih.

Suasana saat PLN bersama para mitra strategis seperti Climate Group (RE100), World Resources Institute (WRI) Indonesia, dan Rumah PATEN dalam forum Green Energy Partnership Forum 2026 di Jakarta, Rabu (7/10). Kolaborasi berkelanjutan dengan berbagai lembaga independent global ini, menjadi jaminan bagi 59 korporasi green buyers bahwa seluruh instrumen energi bersih PLN, memiliki keterlacakan (traceability) yang sah serta terverifikasi oleh standar audit internasional dari hulu ke hilir. (dok. PLN)
Melalui kerja sama dengan berbagai lembaga independen global, PLN memperkuat kredibilitas layanan energi hijaunya, termasuk Renewable Energy Certificate (REC) dan Green Energy as a Service (GEAS). Kedua layanan tersebut didukung upaya memastikan keterlacakan penggunaan energi bersih yang sah dan terverifikasi, sesuai standar audit internasional dari hulu ke hilir.
Direktur Retail dan Niaga PLN, M. Fahrur Rozy, menjelaskan keterlibatan mitra strategis dan pakar lingkungan global diperlukan untuk memastikan klaim penggunaan energi terbarukan oleh pelanggan industri dapat dipertanggungjawabkan.
"Kehadiran dari Climate Group, Rumah PATEN, hingga WRI ini untuk membentuk ekosistem di mana PLN memastikan energi hijau yang dihasilkan itu clean—baik dari sisi administrasi, kepastian sumber, hingga keterlacakan. Kita tidak ingin hanya menghasilkan selembar kertas atau sertifikat yang harus dibayar tapi tidak sesuai kredibilitas. PLN bertransformasi tidak hanya jualan listrik, tetapi menjadi digital platform para investor untuk mempertemukan buyer dan seller agar ekosistem terkelola dan lebih banyak investor masuk ke Indonesia," tegas Rozy.
Penguatan layanan energi hijau tersebut juga sejalan dengan kebijakan Pemerintah dan agenda Asta Cita Presiden Republik Indonesia, khususnya dalam mendorong swasembada energi dan hilirisasi nasional. Direktur Energi Terbarukan Ditjen EBTKE Kementerian ESDM, Toni Susandy, menyebut potensi EBT Indonesia yang melebihi 3.600 Gigawatt (GW) serta porsi EBT sebesar 61 persen dalam bauran pembangkit listrik RUPTL 2025-2034 sebagai modal untuk mendukung dekarbonisasi sektor industri.
"Transisi energi bukan semata-mata agenda lingkungan, tetapi bagian dari strategi ketahanan dan kemandirian energi nasional. Ketika perusahaan meningkatkan penggunaan energi terbarukannya, mereka tidak hanya mengurangi emisi tetapi juga menciptakan demand yang memberi sinyal positif kepada developer dan investor. Dekarbonisasi industri tidak harus dipandang sebagai cost of doing business, melainkan investasi strategis untuk menjaga daya saing industri di masa depan," ujar Toni.
.jpeg)
Direktur Energi Terbarukan Ditjen EBTKE Kementerian ESDM, Toni Susandy, pada forum Green Energy Partnership 2026, mengungkapkan bahwa potensi EBT nasional yang melebihi 3.600 Gigawatt (GW) dan porsi EBT 61% (pembangkit listrik) dalam RUPTL 2025–2034 menjadi modal kuat menopang dekarbonisasi sektor industri. (dok. PLN)
Sementara itu, Executive Chairperson Indonesia Energy Transition Implementation Joint Office (IETJO/Rumah PATEN) Edo Mahendra mengapresiasi langkah PLN dalam mengagregasikan permintaan listrik hijau atau green demand berskala besar dengan mempertimbangkan kebutuhan industri secara menyeluruh.
"Di negara-negara berkembang, ada logika ekonomi untuk melindungi industri manufaktur nasional. Saya mengapresiasi PLN yang tidak hanya melihat dari sisi supply, yang merupakan cara lama dan tradisional, tetapi melompat melihat demand lalu mengagregasikannya. Selama ada kepastian, kejelasan, dan stabilitas, arus pendanaan akan mengalir masuk," kata Edo.
Dengan memperkuat ketersediaan solusi energi hijau yang terverifikasi secara global, PLN optimistis dapat membantu industri nasional menghadapi tuntutan dekarbonisasi. Upaya ini sekaligus diarahkan untuk mengukuhkan posisi Indonesia sebagai pusat pertumbuhan ekonomi hijau di kawasan regional.