Diskusi bertajuk 'Dari Buku Ke Perubahan: Buku Anak, Ecocritical Literacy, dan Aksi Bersama' di panggung Children Book Festival, Indonesia International Book Fair (IIBF) 2026. Dokumentasi/ istimewa.
Ketika Buku Anak Membuka Percakapan tentang Masa Depan Bumi
Deny Irwanto • 13 October 2026 23:20
Jakarta: Perubahan iklim, bencana ekologis, dan persoalan sampah menjadi isu yang semakin sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Bagi orang tua dan pendidik, tantangannya bukan hanya menjelaskan persoalan tersebut kepada anak, tetapi juga membantu mereka memahami dampaknya tanpa menimbulkan ketakutan atau kecemasan berlebihan.
Buku anak dapat menjadi salah satu media untuk membuka percakapan mengenai lingkungan dengan bahasa yang lebih dekat dengan dunia anak. Melalui cerita dan ilustrasi, persoalan yang kompleks dapat diperkenalkan secara bertahap, sekaligus mengajak anak mengenali tindakan sederhana yang bisa dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
Hal tersebut menjadi salah satu bahasan dalam diskusi bertajuk 'Dari Buku Ke Perubahan: Buku Anak, Ecocritical Literacy, dan Aksi Bersama' di panggung Children Book Festival, Indonesia International Book Fair (IIBF) 2026, Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, pada 5 Oktober 2026.
Salah satu buku yang diperkenalkan dalam sesi tersebut adalah Pulihkan Kembali: Kisah Dua Kota, Satu Sungai, dan Harapan untuk Bumi, edisi bahasa Indonesia dari Turn It Around karya Jenny Molendyk Divleli dan Somaye Mohamady.
Melalui kisah dua kota yang dipisahkan oleh sebuah sungai, buku ini menggambarkan bagaimana pilihan dan perilaku manusia dapat memengaruhi lingkungan serta kehidupan orang lain. Cerita tersebut juga membuka ruang untuk membicarakan pemulihan lingkungan sebagai hasil dari upaya bersama.

Diskusi bertajuk 'Dari Buku Ke Perubahan: Buku Anak, Ecocritical Literacy, dan Aksi Bersama' di panggung Children Book Festival, Indonesia International Book Fair (IIBF) 2026. Dokumentasi/ istimewa.
Cerita dan Ilustrasi Membantu Anak Memahami Lingkungan
Editor buku Pulihkan Kembali, Ahliana Afifati Sani, menjelaskan gagasan tentang keterhubungan antarmanusia dan alam disampaikan melalui teks serta elemen visual.
Salah satu unsur yang digunakan adalah ruang kosong atau white space pada halaman buku. Pada awal cerita, ruang tersebut menjadi batas antara dua kota. Seiring meningkatnya kerusakan lingkungan, bentuk dan posisinya berubah, lalu bergerak kembali ketika proses pemulihan mulai berlangsung.
Teknik visual yang disebut dynamic negative space itu membantu menggambarkan konsep yang abstrak menjadi lebih konkret. Anak dapat mengamati perubahan dalam ilustrasi untuk memahami bahwa kerusakan lingkungan memiliki dampak dan upaya bersama dapat mendorong perbaikan.
"Anak-anak akan melihat bahwa apa yang kita suarakan dan upayakan dapat membawa dampak nyata. Dalam buku ini, pergeseran white space menggambarkan bagaimana upaya kolektif dapat mengembalikan keseimbangan yang sempat terganggu," kata Ahliana dalam keterangan dikutip, Selasa, 13 Oktober 2026.
Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa buku anak tidak hanya berfungsi sebagai sarana belajar membaca. Cerita dan ilustrasi juga dapat menjadi pintu masuk untuk membahas sebab-akibat, tanggung jawab, dan hubungan antara tindakan sehari-hari dengan kondisi lingkungan.
Membicarakan Lingkungan Tanpa Membebani Emosi Anak
Di sisi lain, kepedulian terhadap lingkungan dapat memunculkan respons emosional pada anak. Informasi tentang bencana, kerusakan alam, dan ancaman perubahan iklim berpotensi membuat mereka khawatir, terutama ketika belum memiliki pemahaman yang cukup untuk memaknai informasi tersebut.
Psikiater anak dan remaja, Fransiska Kaligis, membahas fenomena eco-anxiety atau kecemasan yang berkaitan dengan persoalan lingkungan. Ia menekankan pentingnya menyesuaikan penjelasan dengan usia dan kemampuan anak dalam memahami informasi.
"Sebenarnya (membahas isu lingkungan dengan anak ini) susah-susah gampang, mungkin kita bisa sesuaikan dengan usia dan kemampuan anak mencerna. Misal, bahasanya kita sesuaikan, jujur apa adanya, sampaikan bukan dengan menakut-nakuti, tetapi kita ajak anak berdiskusi, 'Apa ya yang bisa kita lakukan?', dan buku bisa menjadi media yang baik untuk memperkenalkan isu kompleks agar lebih mudah dicerna," jelas psikiater anak dan remaja yang akrab disapa dr. Cika ini.
Pendekatan tersebut menempatkan anak sebagai bagian dari percakapan, bukan sekadar penerima informasi. Orang dewasa dapat memberi ruang bagi anak untuk bertanya, mengungkapkan perasaan, dan mengenali tindakan sederhana yang sesuai dengan usia mereka.
Dengan cara ini, kepedulian terhadap lingkungan tidak harus dibangun melalui gambaran yang menakutkan. Anak dapat diajak memahami persoalan secara jujur, sekaligus mengenali bahwa mereka tidak perlu memikul tanggung jawab untuk menyelesaikan masalah lingkungan yang kompleks seorang diri.
Kebiasaan Sehari-hari sebagai Awal Perubahan
Selain cerita dan pendampingan emosional, lingkungan keluarga juga berperan dalam membentuk kepedulian anak terhadap alam.
Pendiri Sekolah Cinta Anak Indonesia (Sekoci), Ajeng Satiti Ayuningtyas, menekankan bahwa pendidikan lingkungan tidak cukup hanya disampaikan melalui teori. Anak juga belajar dari kebiasaan yang mereka lihat dan praktikkan setiap hari.
Memilah sampah, mematikan lampu saat tidak digunakan, serta membiasakan perilaku yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan dapat menjadi bagian dari proses belajar tersebut.
Ajeng juga menyoroti peran komunitas literasi sebagai ruang bagi orang tua, khususnya ibu, untuk memperoleh informasi, berbagi pengalaman, dan saling mendukung dalam menanamkan kepedulian lingkungan di rumah.
Dukungan komunitas dapat membantu orang tua merasa lebih percaya diri dalam mendampingi anak. Pada saat yang sama, keterlibatan keluarga dan lingkungan sekitar membuka peluang agar kebiasaan baik tidak berhenti pada satu individu, tetapi berkembang menjadi gerakan bersama.
Diskusi yang dipandu moderator Reisya Callista itu diikuti orang tua, pendidik PAUD dan sekolah dasar, pustakawan, serta pegiat komunitas literasi anak. Pembahasan menunjukkan bahwa isu lingkungan dapat dikenalkan melalui beragam pendekatan, mulai dari kegiatan membaca hingga praktik sederhana di rumah dan sekolah.
Memahami Dampak Lingkungan Melampaui Batas Wilayah
Buku Pulihkan Kembali juga membuka ruang untuk mengenalkan konsep environmental justice atau keadilan lingkungan dan ecocritical literacy atau literasi eko-kritis. Kedua pendekatan tersebut membantu pembaca melihat bahwa persoalan lingkungan tidak hanya berkaitan dengan alam, tetapi juga dengan perilaku manusia, kondisi sosial-ekonomi, kebijakan, dan dampak yang dirasakan masyarakat.
Gambaran dua kota yang terhubung oleh satu sungai menjadi contoh bagaimana persoalan lingkungan dapat melampaui batas administratif. Air yang mengalir dari hulu menuju hilir dapat membawa sampah atau zat pencemar ke wilayah lain, termasuk tempat yang jauh dari sumber pencemaran.
Dengan ilustrasi tersebut, anak dapat diajak memahami bahwa tindakan di satu tempat berpotensi memengaruhi kehidupan orang lain. Persoalan lingkungan pun dapat menjadi bahan pembelajaran tentang tanggung jawab bersama dan pentingnya mempertimbangkan dampak perilaku terhadap masyarakat yang lebih luas.
Pada usia sekolah dasar, cerita dan ilustrasi konkret dapat membantu anak membangun pemahaman mengenai hubungan sebab-akibat. Konsep yang awalnya terasa abstrak dapat dijelaskan melalui situasi yang mudah diamati, seperti aliran sungai, sampah, atau perubahan kondisi lingkungan di sekitar tempat tinggal.
Pada akhirnya, mengenalkan persoalan lingkungan kepada anak bukan semata-mata tentang menyampaikan besarnya ancaman yang dihadapi Bumi. Proses tersebut juga berkaitan dengan bagaimana orang dewasa membantu anak memahami informasi, mengelola perasaan, dan menemukan tindakan yang bisa dilakukan sesuai kemampuannya.
Melalui buku, percakapan terbuka, kebiasaan sehari-hari, dan dukungan komunitas, kepedulian terhadap lingkungan dapat tumbuh secara bertahap. Anak pun dapat belajar bahwa menjaga Bumi merupakan tanggung jawab bersama yang dimulai dari pemahaman dan tindakan nyata, tanpa harus dibebani rasa takut atau bersalah yang berlebihan.