Indonesia-Pakistan Jajaki Kerja Sama Dagang dan Produk Halal

Pengusaha Indonesia-Pakistan jajaki peluang kerja sama dagang. Foto: dok Trade Indonesia.

Indonesia-Pakistan Jajaki Kerja Sama Dagang dan Produk Halal

Ade Hapsari Lestarini • 16 October 2026 07:36

Jakarta: International Creatives Exchange (ICE), melalui lini program Trade Indonesia-platfom B2B, bekerja sama dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Islamabad dan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Karachi, menggelar Gala Dinner dan Business Matching yang dihadiri sekitar 30 pengusaha asal Pakistan dan Indonesia.

Acara ini merupakan tindak lanjut dari Grand Launching Trade Indonesia yang berlangsung di She La Vie Grand Ballroom, Alam Sutera, Tangerang, pada Selasa, 13 Oktober 2026. Peluncuran tersebut diresmikan oleh Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan RI Irwan Meilano, mewakili Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Sakti Wahyu Trenggono. Gala dinner dan business matching ini juga dihadiri Minister of Trade and Investment Pakistan Muhammad Naseem Rasheed.

Dalam suasana yang lebih akrab, para pengusaha dari kedua negara berkesempatan saling mengenal, memperkenalkan produk dan kebutuhan bisnis masing-masing, serta menjajaki peluang kerja sama perdagangan secara langsung. Turut hadir pula Minister Counsellor (Menteri Penasihat) sekaligus Kepala Bidang Ekonomi KBRI Islamabad, Pakistan, Ingan Malem. Kehadirannya menegaskan peran perwakilan RI di Pakistan sebagai mitra kolaborasi dalam penyelenggaraan kegiatan ini.

Founder & Global Head ICE, Atta Ul Karim, menyampaikan gala dinner dan business matching ini merupakan langkah konkret Trade Indonesia untuk memastikan peluncuran tidak berhenti sebagai seremoni, tetapi berlanjut menjadi pertemuan bisnis yang nyata.

"Peluncuran Trade Indonesia dua hari lalu baru langkah awal. Malam ini kami ingin menunjukkan Trade Indonesia bukan sekadar seremoni, melainkan ruang tempat para pengusaha benar-benar duduk bersama, saling mengenal, dan mulai membicarakan kerja sama. Indonesia dan Pakistan memiliki hubungan yang panjang, dan kami percaya potensi perdagangan kedua negara masih sangat besar untuk digarap," ujar Atta, dalam keterangan tertulis, Jumat, 16 Oktober 2026.


Pengusaha Indonesia-Pakistan jajaki peluang kerja sama dagang. Foto: dok Trade Indonesia.
 

 

Memperkuat jalur komunikasi perdagangan antara kedua negara


Sejak awal, Trade Indonesia diarahkan untuk mendorong koneksi antarpelaku usaha berkembang menjadi kolaborasi, lalu berujung pada transaksi dan kontrak bisnis. Pakistan menjadi salah satu mitra awal dalam pengembangan jaringan internasional Trade Indonesia, didukung kolaborasi dengan perwakilan RI di Islamabad dan Karachi.

Atase Perdagangan Pakistan, Muhammad Naseem Rasheed, menyampaikan dukungannya terhadap inisiatif Trade Indonesia dalam mempertemukan pelaku usaha kedua negara. Kehadirannya menjadi bentuk dukungan nyata terhadap upaya mempertemukan pelaku usaha Indonesia dan Pakistan secara langsung, sekaligus memperkuat jalur komunikasi perdagangan antara kedua negara.

Sebelumnya, dalam sesi diskusi Grand Launching Trade Indonesia di She La Vie Grand Ballroom, Alam Sutera, Tangerang, Selasa, 13 Oktober 2026, Naseem Rasheed memaparkan pandangannya tentang peluang kerja sama dagang kedua negara, khususnya di sektor halal.

"Saya sudah tinggal di Indonesia selama beberapa tahun dan senang berada di sini, karena alamnya yang hijau dan keramahan masyarakatnya. Dalam perdagangan, Indonesia memiliki potensi besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan daya saing pasar," ujar Naseem.

Menurut dia, status Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar menjadi modal untuk membangun jaringan produk halal, seperti tekstil dan makanan. Ia menilai Indonesia telah mengembangkan halal sebagai ekosistem yang terintegrasi, salah satunya melalui penyelenggaraan pameran halal.

"Indonesia memiliki potensi untuk mengembangkan industri halal global. Halal tidak seharusnya hanya dipahami sebagai urusan institusi keagamaan, tetapi dapat menjadi standar untuk mendorong peningkatan kualitas produk," jelas dia.

Ekosistem halal, lanjut Naseem, perlu dibangun melalui standardisasi, sertifikasi, pengawasan, dan peningkatan kualitas. Naseem juga mengulas perjalanan hubungan dagang kedua negara sejak kesepakatan yang ditandatangani pada 2012, termasuk ekspor beras Pakistan ke Indonesia serta kesepakatan di bidang perdagangan dan pertanian.

Dalam dua tahun terakhir, kerja sama berkembang ke sektor pariwisata, ekosistem halal, akademik, dan inspeksi. Ia berharap kerja sama ekonomi Indonesia dan Pakistan semakin komprehensif dalam sepuluh tahun ke depan, dan menyebut Pakistan dapat menjadi platform bagi Indonesia untuk mengembangkan pasarnya. Ia tidak menampik masih adanya tantangan, terutama terkait sistem karantina dan regulasi perdagangan.

"Diperlukan peningkatan koordinasi antara kedua negara untuk menyelaraskan prosedur perdagangan, memperjelas persyaratan regulasi, dan mempermudah akses pasar tanpa mengabaikan standar kualitas serta keamanan produk," kata Naseem.

Menutup pemaparannya, Naseem menekankan pentingnya sarana komunikasi yang kuat antara Indonesia dan Pakistan serta kesepakatan yang bersifat praktis. "Kita perlu membuat kesepakatan praktis agar kerja sama kedua negara dapat diwujudkan dalam langkah-langkah konkret. Forum ini tidak boleh berhenti sebagai forum biasa, tetapi harus menjadi langkah untuk memperkuat kerja sama Indonesia dan Pakistan," tegas dia.

Ke depan, Trade Indonesia merencanakan rangkaian kegiatan berkelanjutan di tingkat nasional dan internasional, termasuk business matching, forum perdagangan, pameran, dan misi dagang bersama mitra luar negeri. Dengan semangat Connecting Business, Expanding Opportunities, Trade Indonesia terus membuka ruang pertemuan antara pelaku usaha Indonesia dan mitra global untuk menghasilkan kerja sama yang saling menguntungkan.

(Ade Hapsari Lestarini)