Penarikan Pasukan AS Tandai Berakhirnya Misi Melawan ISIS di Irak

Pasukan Amerka Serikat yang keluar dari Irak. Foto: Fox News

Penarikan Pasukan AS Tandai Berakhirnya Misi Melawan ISIS di Irak

Fajar Nugraha • 30 September 2026 19:10

Baghdad: Militer Amerika Serikat (AS) telah menyelesaikan penarikan pasukan dan peralatan Amerika dari Pangkalan Udara Erbil di Irak, yang menandai berakhirnya misi Operation Inherent Resolve.

Komando Pusat AS (CENTCOM) pada Rabu 30 September 2026 mengatakan, kepergian ini menutup babak Irak dari misi militer pimpinan AS yang diluncurkan untuk melawan ISIS pada tahun 2014, sekaligus mengalihkan tanggung jawab utama atas keamanan negara tersebut kepada pasukan Irak.

Namun, kampanye penanggulangan ISIS secara keseluruhan tidak berakhir; gugus tugas pimpinan AS memindahkan markas besarnya ke Yordania dan operasi tetap berlanjut di Suriah.

"Kerja luar biasa dari puluhan ribu anggota militer, diplomat, dan personel sipil Amerika yang telah menjawab panggilan tugas di Irak," ujar komandan CENTCOM, Laksamana Brad Cooper, seperti dikutip dari Fox News.

"Berkat ketangguhan, pengorbanan, dan profesionalisme Anda, ISIS tidak lagi menjadi ancaman sistemik bagi keamanan nasional Irak, dan pasukan keamanan Irak -,termasuk Peshmerga serta pasukan keamanan Wilayah Kurdistan Irak lainnya,- kini memiliki kapasitas, kepemimpinan, dan kemandirian operasional untuk menangani ancaman terhadap tanah air mereka secara mandiri,” ujar Cooper.

Menurut CENTCOM, Pangkalan Udara Erbil di Irak utara berfungsi sebagai pusat operasional utama bagi Combined Joint Task Force-Operation Inherent Resolve dan menampung sebagian besar dari sekitar 1.500 personel pasukan Amerika dan Koalisi yang mendukung operasi penanggulangan ISIS.

Pasukan AS dan Koalisi mulai meninggalkan wilayah Irak federal pada bulan Oktober lalu seiring langkah Washington dan Baghdad menuju hubungan pertahanan bilateral. Penarikan terakhir personel dan peralatan dari Erbil merampungkan transisi tersebut pada tanggal 30 September.

Menurut CENTCOM, Combined Joint Task Force-Operation Inherent Resolve tetap aktif dan kini bermarkas di Yordania. Pasukan AS juga terus menjalankan operasi penanggulangan ISIS di Suriah bersama mitra Koalisi dan pemerintah Suriah.

"Saat kami menarik diri dan menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab utama atas keamanan Irak kepada Pemerintah Irak serta rakyat Irak yang gagah berani, pasukan AS dan Koalisi yang ditempatkan di kawasan tersebut akan tetap siaga untuk merespons setiap ancaman ISIS yang muncul," ujar Cooper.

"Menjaga kewaspadaan dan kesiapsiagaan sangatlah penting demi melindungi wilayah AS dan memperkuat keamanan kawasan," tambah Cooper.

Penarikan ini mengakhiri kehadiran militer AS di Irak yang sempat diadakan kembali pada 2014, ketika otoritas Irak meminta bantuan internasional saat ISIS menguasai sebagian besar wilayah negara tersebut. Pasukan AS sebelumnya telah meninggalkan Irak pada tahun 2011 menyusul invasi 2003 yang menggulingkan Saddam Hussein.

Kepergian terakhir ini terjadi di tengah tantangan keamanan lain yang dihadapi Irak, yakni keberadaan milisi kuat yang didukung Iran dan beroperasi di dalam negeri.

Baghdad telah berupaya menempatkan persenjataan yang dimiliki kelompok non-negara di bawah kendali pemerintah, namun beberapa milisi paling berpengaruh menolak untuk melucuti senjata mereka.

Penarikan pasukan ini memicu reaksi yang sangat beragam di dalam negeri Irak. Kelompok-kelompok yang berafiliasi dengan Iran menyambut baik kepergian AS, sementara para pejabat di wilayah Kurdistan menyatakan kekhawatiran terkait hilangnya kemampuan pertahanan udara Amerika di tengah ancaman serangan pesawat nirawak (drone) dan rudal.

CENTCOM menyatakan bahwa pasukan AS dan Koalisi di wilayah lain di kawasan tersebut akan tetap siap bertindak jika ISIS kembali menimbulkan ancaman.

(Fajar Nugraha)