Plt. Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes, Andi Saguni. Foto: Tangkapan layar.
Musim Pancaroba Pemicu Tren Kasus Flu Musiman Meningkat di Indonesia
Metro TV • 29 September 2026 00:04
Jakarta: Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengimbau masyarakat untuk mewaspadai pergeseran cuaca pada musim pancaroba dan kemarau panjang yang memicu peningkatkan tren flu musiman sejak pertengahan September. Kemenkes memastikan tingkat penularannya masih berada pada taraf sedang dengan angka keterisian rawat inap rumah sakit di kategori rendah.
“Cenderung meningkat di September sampai dengan akhir tahun, kemudian dia turun kembali. Dan itu erat kaitannya dengan musim pancaroba dan musim kemarau yang panjang,” kata Plt. Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes Andi Saguni dalam konferensi pers daring, Senin, 28 September 2026.
Andi memaparkan, berdasarkan hasil pemantauan di lapangan, persentase pasien flu yang berobat ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit berada di kisaran 10 persen dari total pasien. Angka tersebut relatif stabil dan tidak sampai mengganggu ketersediaan ruang rawat inap.
“Berdasarkan pantauan secara langsung, itu masih sekitar 10% ya dari pada total yang masuk IGD dan cenderung masih sama dengan hari-hari sebelumnya,” tutur Andi.
Dalam kesempatan yang sama, Kemenkes turut meluruskan kabar mengenai kondisi COVID-19 di Indonesia yang justru mencatatkan penurunan signifikan. Hingga pekan ke-38 tahun 2026, akumulasi kasus COVID-19 terdeteksi sebanyak 126 kasus, atau turun jauh dibanding rentang waktu yang sama pada 2025 yang mencapai 312 kasus.
.jpg)
Ilustrasi pencegahan penyakit menular. Foto: Dok. Antara.
“Tahun 2025 ada sebanyak 312 kasus COVID-19, kemudian di tahun 2026 sampai dengan minggu ke-38 artinya di akhir September jumlahnya itu cuma 126,” kata Andi.
Kemenkes juga mengonfirmasi bahwa varian COVID-19 baru XDE.1 yang marak di tingkat global belum ditemukan di dalam negeri. Jenis yang saat ini bersirkulasi di tanah air merupakan varian XFG.5.1.7 dan RF.5 di beberapa provinsi. Masyarakat pun diimbau untuk tidak panik dan terus menjaga daya tahan tubuh selama perubahan cuaca berlangsung.
(Metrotvnews.com/Arini Noviawati Gunawan)