Ilustrasi. Foto: Freepik.
Harga Emas Dunia Naik 4%, Tembus USD4.500 per Ons
Eko Nordiansyah • 20 August 2026 08:08
Chicago: Harga emas dunia melonjak pada Rabu, 19 Agustus 2026. Harga emas spot menembus USD4.500 per ons untuk pertama kalinya sejak awal Juni, didorong pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) setelah Departemen Keuangan AS mengambil langkah untuk meredam tekanan di pasar obligasi.
Pelaku pasar juga mencermati risalah rapat terbaru Federal Reserve (The Fed) yang menunjukkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi.
Dilansir dari Investing, Kamis, 20 Agustus 2026, harga emas spot naik 4 persen menjadi USD4.508,28 per ons. Sementara harga emas berjangka menguat 3,3 persen menjadi USD4.567,94 per ons.
Kedua kontrak tersebut mencapai level tertinggi sejak 29 Mei.
Departemen Keuangan AS redam aksi jual obligasi
Departemen Keuangan AS mengumumkan akan melipatgandakan operasi pembelian kembali (buyback) obligasi tenor panjang untuk mendukung likuiditas pasar.Mulai 9 September, nilai operasi buyback untuk sekuritas tenor 10-20 tahun dan 20-30 tahun akan meningkat dari USD2 miliar menjadi USD4 miliar per operasi.
Langkah tersebut mendorong aksi beli obligasi dan menekan imbal hasil (yield) Treasury tenor panjang. Yield obligasi AS tenor 30 tahun turun 9,2 basis poin menjadi 5,193 persen setelah sehari sebelumnya mencapai 5,337 persen, level tertinggi sejak Juni 2007.
Baca Juga :
Harga Minyak Melonjak, Brent Dekati USD92/ Barel
.jpg)
(Ilustrasi emas. Foto: Unplash)
Sebelumnya, obligasi tenor panjang mengalami tekanan jual setelah keputusan suku bunga The Fed pada Juli. Kekhawatiran terhadap inflasi akibat kenaikan harga minyak serta meningkatnya penerbitan utang oleh perusahaan teknologi besar untuk membiayai pembangunan infrastruktur kecerdasan artifisial (AI) turut menekan pasar obligasi.
Penurunan yield Treasury kemudian menekan indeks dolar AS. Kondisi tersebut memberikan dukungan tambahan bagi harga emas karena logam mulia menjadi relatif lebih menarik ketika dolar melemah dan imbal hasil obligasi turun.
The Fed masih waspadai inflasi
Risalah rapat The Fed pada Juli menunjukkan banyak pembuat kebijakan menilai kenaikan suku bunga dapat diperlukan apabila inflasi tidak menunjukkan penurunan.The Fed mempertahankan suku bunga pada rapat tersebut. Namun, tiga presiden bank sentral regional menyatakan perbedaan pendapat terhadap keputusan tersebut.
Risalah juga menunjukkan prospek inflasi masih dinilai sangat tidak pasti dengan risiko yang cenderung meningkat. Sejumlah pejabat menilai eskalasi konflik di Timur Tengah dapat memperpanjang gangguan rantai pasok dan meningkatkan tekanan terhadap inflasi.
Kondisi tersebut membuat pelaku pasar terus mencermati arah kebijakan moneter AS, terutama prospek suku bunga dan dampaknya terhadap pergerakan dolar serta harga emas.