Kisah Pengorbanan Kakek Umar untuk Cucunya di Tengah Tragedi KM Nurul Salsa

Kakek Umar bersama dengan cucunya Naurah sebelum KM Nurul Salsa tenggelam di Perairan Selayar, Sulawesi Selatan. Istimewa.

Kisah Pengorbanan Kakek Umar untuk Cucunya di Tengah Tragedi KM Nurul Salsa

Muhammad Syawaluddin • 22 July 2026 20:31

Makassar: Di tengah tragedi tenggelamnya KM Nurul Salsa di Perairan Selayar, kisah seorang kakek bernama Umar (80) dan cucunya, Naurah (13), menyentuh banyak orang. Foto keduanya saat berada di tengah musibah viral di media sosial.

Dalam foto itu, Naurah terlihat mengenakan pelampung berwarna oranye dan biru, sementara Umar hanya memakai jaket berwarna cokelat. Foto tersebut viral bukan hanya karena tragedi kapal, tetapi karena pengorbanan sang kakek yang berusaha menyelamatkan cucunya.

Umar disebut memberikan pelampung terakhir yang tersedia di KM Nurul Salsa kepada Naurah. Ia berharap cucunya dapat bertahan hidup ketika kapal mulai tenggelam.
 


Kisah itu diceritakan oleh salah satu penyintas KM Nurul Salsa, Munawir (50). Pria yang akrab disapa Nawir tersebut merupakan satu dari puluhan penumpang yang berhasil selamat dalam tragedi itu.

Meski selamat, Nawir masih menyimpan penyesalan. Ia mengaku hingga kini belum mengetahui keberadaan Naurah, anak yang berada dalam foto tersebut. Ia juga merasa belum mampu menyelamatkan bocah itu.

Nawir menceritakan, perjalanan KM Nurul Salsa dari Pelabuhan Jampea menuju Pelabuhan Benteng, Selayar, awalnya berjalan normal. Tidak ada tanda-tanda gangguan hingga kapal berada di tengah perjalanan.

Namun, secara tiba-tiba mesin kapal mati. Awalnya para penumpang tidak panik karena mengira gangguan tersebut dapat segera diperbaiki.

Seiring waktu, mesin kapal tak kunjung menyala. Di saat bersamaan, ombak mulai menghantam kapal hingga membuat para penumpang mulai panik.

Nawir bersama penumpang lainnya kemudian mengenakan pelampung yang tersedia di kapal, termasuk Umar dan Naurah.

“Saat kapal tenggelam, neneknya berada di kelompok kapten kapal. Kalau kakeknya sama Naurah,” kata Nawir, dikutip Rabu, 22 Juli 2026. 

Ia mengatakan, keputusan Umar menyerahkan pelampung kepada cucunya membuat Naurah tetap mengapung saat kapal tenggelam. Namun, Umar tidak mampu bertahan dan ikut tenggelam bersama KM Nurul Salsa.

“Pas kapal tenggelam dia (Umar) juga ikut tenggelam,” kenangnya.

Saat berada di tengah laut, Naurah sempat menangis dan memanggil-manggil kakeknya. Mendengar suara tersebut, Nawir yang masih berjuang di tengah laut langsung menghampiri Naurah.

Saya lihat Naurah, langsung saya ambil, kasih naik ke atas gabus, ungkapnya.

Namun, kondisi tersebut tidak berlangsung lama. Pada malam hari, ombak besar kembali menghantam para penumpang yang bertahan di atas potongan gabus.

Akibat hantaman ombak, mereka terbalik dan terpencar. Dalam kondisi gelap gulita, Nawir kehilangan keberadaan Naurah.

“Saya tidak tahu ke mana lagi Naurah dan penumpang lainnya karena sudah tidak kelihatan karena gelap,” ujarnya.

Setelah berjam-jam bertahan melawan ombak, Nawir akhirnya diselamatkan oleh kapal nelayan bersama sejumlah penyintas lainnya. Meski telah selamat, bayangan Naurah yang terus memanggil nama kakeknya masih membekas dalam ingatannya.

class=big_center
Proses pencarian korban KM Nurul Salsa di Perairan Selayar, Sulawesi Selatan, Selasa, 21 Juli 2026. (Istimewa)


Sementara itu, operasi pencarian korban KM Nurul Salsa masih terus berlangsung. Dari total 78 orang yang berada di atas kapal, sebanyak 59 orang dinyatakan selamat, satu korban telah teridentifikasi meninggal dunia, dan dua jenazah lainnya masih dalam proses identifikasi.

Tim SAR gabungan masih melakukan pencarian terhadap 16 korban yang belum ditemukan. Keluarga para korban terus menunggu kabar dengan harapan orang-orang tercinta dapat segera ditemukan.

Naurah dan Umar hingga kini masih termasuk dalam daftar 16 penumpang KM Nurul Salsa yang masih dicari oleh tim SAR gabungan.

(Silvana Febiari)