Ilustrasi sentra industri tempe di Sanan, Kota Malang. Metrotvnews.com/Daviq Umar
Kedelai Impor Naik, Tempe di Kota Malang Kini Dibuat Lebih Kecil
Daviq Umar Al Faruq • 19 May 2026 19:15
Malang: Kenaikan harga kedelai impor mulai menekan pelaku usaha tempe di Sentra Industri Sanan, Kota Malang, Jawa Timur. Dampaknya, para perajin memilih mengecilkan ukuran tempe demi mempertahankan harga jual agar pelanggan tidak beralih ke produk lain.
Salah satu karyawan perajin tempe di Sanan, Ami, mengatakan kenaikan harga kedelai sudah terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi tersebut semakin terasa karena sebagian besar kebutuhan kedelai masih bergantung pada pasokan luar negeri.
“Awalnya harga kedelai sekitar Rp9.800, sekarang jadi Rp10.900 per kilogram, kadang juga lebih,” ujar Ami saat ditemui, Selasa, 19 Mei 2026.
Meski biaya produksi meningkat, para perajin tempe belum berani menaikkan harga jual. Mereka khawatir konsumen akan mengurangi pembelian atau beralih ke produk pangan lain yang lebih murah.
Sebagai siasat bertahan, ukuran tempe yang dijual kini dibuat lebih kecil dan tipis dibanding sebelumnya. Cara itu dipilih agar harga jual tetap terjangkau di tengah daya beli masyarakat yang melemah.
“Kalau harga tempe tidak kota naikkan, jadi harganya tetap. Ukurannya saja yang kita kecilkan, lebih tipis dari sebelumnya, kira-kira 1,5 centimeter,” beber Ami.
Di tempat produksinya, tempe ukuran besar dijual sekitar Rp23 ribu hingga Rp25 ribu per lonjor. Sementara ukuran kecil dipasarkan dengan harga Rp18 ribu hingga Rp20 ribu.

Ilustrasi sentra industri tempe di Sanan, Kota Malang. Metrotvnews.com/Daviq Umar
Ami mengakui penjualan tempe mulai mengalami penurunan meski belum terlalu signifikan. Kondisi tersebut terlihat dari berkurangnya jumlah pembelian pelanggan di pasar tradisional.
“Kalau pembeli memang sedikit berkurang, meskipun tidak banyak dan masih ada saja yang beli,” ujar Ami.
Menurut dia, para pedagang pasar juga mengeluhkan turunnya daya beli masyarakat dalam beberapa waktu terakhir. Jika sebelumnya pelanggan membeli tempe senilai Rp10 ribu, kini banyak yang hanya membeli Rp5 ribu hingga Rp7 ribu.
Penurunan permintaan turut berdampak pada kapasitas produksi harian perajin tempe. Saat kondisi normal, produksi tempe bisa mencapai 7 hingga 8 kuintal per hari, namun kini turun menjadi sekitar 6,5 kuintal.
“Kadang kalau penjual pasar tidak habis jualannya, ada yang dikembalikan juga,” tutur Ami.
Di tengah kenaikan harga bahan baku dan lesunya daya beli masyarakat, para perajin berharap ada campur tangan pemerintah untuk menstabilkan harga kedelai. Mereka menilai bantuan tersebut penting agar usaha tempe rumahan tetap bisa bertahan dan terus berproduksi.
“Harapan kami pemerintah bisa membantu produsen tempe rumahan seperti kami, dengan menurunkan harga kedelai. Agar setiap hari kami bisa tetap berproduksi,” ungkap Ami.
Seperti diketahui, lonjakan harga bahan baku dipicu menguatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah. Situasi perdagangan global yang terganggu akibat penutupan Selat Hormuz juga disebut ikut memengaruhi distribusi dan harga komoditas impor.