Bangkit dari Trauma Bullying, Sawitri Kini Aktif Sebarkan Pesan Self Improvement

Kick Andy Goes to Campus digelar di di Institut Pariwisata Trisakti. (Dok. Metro TV)

Bangkit dari Trauma Bullying, Sawitri Kini Aktif Sebarkan Pesan Self Improvement

Duta Erlangga • 30 June 2026 11:05

Jakarta: Model internasional Sawitri mengungkapkan perjalanan hidupnya dalam menghadapi trauma akibat perundungan yang dialaminya sejak kecil. Pengalaman tersebut justru menjadi titik balik yang membentuk ketangguhan hingga mengantarkannya berkarier di dunia modeling internasional. 

Dalam sesi diskusi pada acara Kick Andy Goes to Campus di Institut Pariwisata Trisakti, Sawitri mengaku sempat tidak naik kelas akibat tekanan psikologis yang dialaminya selama menjadi korban perundungan di sekolah. 

"Saya marah kepada diri sendiri. Saya bilang, ‘Kamu punya otak, lho! Kamu bukan anak yang malas!’," ujarnya, dikutip dari program Kick Andy, Senin, 29 Juni 2026. 


Model internasional Sawitri. (Dok. Metro TV) 

Keputusan tersebut menjadi awal perubahan. Sawitri berhasil memperbaiki prestasi akademiknya hingga beberapa kali meraih peringkat tiga, dua, bahkan juara satu selama masa sekolah. 

Meski diterima di dua perguruan tinggi di Bali, yakni program studi Ilmu Hukum dan Ilmu Gizi, kondisi ekonomi keluarga membuatnya mengurungkan niat untuk melanjutkan pendidikan. 

"Saya sebenarnya bercita-cita menjadi pengacara Karena aku ingin membantu orang-orang yang terzalimi seperti aku dulu. Namun saat itu ayah mengalami kebangkrutan sehingga saya tidak bisa melanjutkan kuliah," katanya. 

Sawitri kemudian mengambil pendidikan Diploma 1 (D1) Pariwisata di Bali. Setelah memiliki penghasilan sendiri saat berkarier di Eropa, ia melanjutkan pendidikan Strata 1 secara daring di bidang Business Management

Menurut Sawitri, proses pemulihan dari trauma dimulai ketika menjalani pelatihan kerja di sektor pariwisata dan bertemu wisatawan mancanegara yang justru memberikan apresiasi terhadap penampilannya. 

"Mereka mengatakan kulit saya indah, energi saya positif, dan memberikan banyak dukungan. Dari situ saya mulai percaya diri," ujarnya. 
 


Pengalaman tersebut mengubah cara pandangnya terhadap diri sendiri. Sawitri kemudian memutuskan merantau ke Jakarta setelah mendapat dukungan dari keluarganya. 

Di Jakarta, ia sempat bekerja selama dua tahun di kawasan World Trade Center (WTC) Sudirman sebagai pengajar di bidang pasar modal. Pengalaman tersebut, menurutnya, menjadi titik penting dalam membangun kepercayaan diri. 

"Aku mulai mengenal diri aku sendiri, finansial aku juga mulai naik jadi aku bisa bergaya, aku bisa ketemu orang-orang yang sangat berkualitas," katanya. 

Kini, selain berkarier sebagai model internasional dan kreator konten, Sawitri aktif membangun konten bertema self improvement dan self growth di media sosial. Ia membuka ruang bagi para pengikutnya untuk berbagi cerita, terutama mereka yang mengalami masalah kesehatan mental maupun menjadi korban perundungan. 

"Aku mencoba menjadi teman buat kalian semua yang merasa sendirian. Kalau mereka tidak punya tempat bercerita, saya persilakan menghubungi saya. Banyak yang mengatakan mereka merasa didengar dan akhirnya tidak mengambil keputusan yang membahayakan dirinya," ujarnya. 

Sawitri berharap semakin banyak masyarakat memahami pentingnya empati dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, perundungan sering kali berawal dari candaan yang dianggap sepele, padahal dapat meninggalkan luka psikologis yang mendalam. 

"Kalau teman kita sudah menunjukkan tanda-tanda tidak nyaman, seharusnya kita berhenti. Saya ingin mengajak semua orang lebih berempati karena itulah pesan utama yang saya sampaikan melalui media sosial," tuturnya. 


                                                      

(Patrick Pinaria)