Menteri Keuangan AS Scott Bessent. (Anadolu Agency)
AS Klaim Sita Aset Kripto Iran Senilai Lebih dari Rp17 Triliun
Willy Haryono • 30 May 2026 12:13
Washington: Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Scott Bessent mengatakan Washington telah menyita aset kripto Iran senilai sekitar USD1 miliar atau setara lebih dari Rp17 triliun.
Mengutip pernyataan Bessent pada Jumat, 29 Mei 2026, AS juga disebut tengah bekerja sama dengan sekutu-sekutunya di Eropa untuk menyita properti yang dikaitkan dengan Tehran.
“Saya yakin kami telah menyita sekitar USD1 miliar aset kripto mereka,” kata Bessent, dikutip dari media Anadolu.
Ia menyebut pemerintah AS mengambil alih langsung dompet digital yang terkait dengan Iran. “Kami langsung mengambil alih wallet tersebut,” ujarnya.
Bessent bahkan mengklaim sebagian pemilik akun kemungkinan belum menyadari aset mereka telah disita. “Mungkin ada yang sedang mencoba masuk sekarang dan belum sadar wallet mereka sudah diambil,” katanya.
Selain aset digital, AS juga disebut memperluas tekanan finansial terhadap Iran melalui penyitaan aset fisik di luar negeri. “Kami bekerja sama dengan sekutu kami di seluruh Eropa untuk menyita vila, rumah, dan properti,” ujar Bessent.
Ia menuduh aset-aset tersebut berasal dari dana yang dicuri dari rakyat Iran. “Ini adalah uang yang dicuri dari rakyat Iran,” katanya.
Bessent juga menyatakan fasilitas ekspor minyak Iran di Pulau Kharg kini secara efektif lumpuh akibat blokade angkatan laut AS.
Menurutnya, langkah Iran menyerang negara-negara Teluk justru memperkuat kerja sama negara-negara kawasan dengan Washington dalam penegakan sanksi finansial terhadap Tehran.
Ia mengatakan negara-negara Teluk kini menjadi “mitra yang sangat baik” dalam membantu pembekuan rekening bank Iran di kawasan.
Pernyataan Bessent disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran setelah konflik yang melibatkan Washington, Israel, dan Tehran sejak Februari lalu.
Amerika Serikat dalam beberapa pekan terakhir juga memperluas sanksi terhadap sektor pelayaran, energi, dan keuangan Iran sebagai bagian dari tekanan ekonomi terhadap Republik Islam tersebut.
Baca juga: Sengketa Aset Beku dan Isu Material Nuklir Hambat Kesepakatan Akhir AS-Iran