Lapak penjualan kembang tabur di TPU Kebon Nanas, Jakarta Timur. Foto: Metrotvnews.com/Zaenal Arifin.
Dilema Pedagang Kembang TPU Kebon Nanas: Harga Grosir Naik, Omzet Lesu
Zaenal Arifin • 17 February 2026 14:38
Jakarta: Di sela keriuhan peziarah yang memadati TPU Kebon Nanas, Jakarta Timur, menjelang Ramadan 1447 Hijriah, terselip keluh kesah para penjaja kembang tabur. Di balik wangi mawar dan melati yang mereka tawarkan, tersimpan realita pahit tentang harga kulakan yang kian mencekik, sementara daya beli masyarakat justru merosot.
"Enggak ada perubahan, sama kaya tahun kemarin. Saya juga jualnya masih sama harga kaya tahun kemarin, Rp5.000 per bungkus, sekarang juga segitu. Segitu (Rp5.000) saja masih ada yang menawar," ujar Yuliana, 40, salah satu pedagang kembang saat ditemui di lokasi, Selasa, 17 Februari 2026.
Ibu dua anak ini mengaku terjepit dalam posisi sulit. Di satu sisi, ia ingin menaikkan harga untuk menutupi modal, namun di sisi lain, ia khawatir dagangannya justru tak laku.
Yuliana membeberkan bahwa harga beli bunga di tingkat grosir mengalami kenaikan yang cukup terasa. Meski ia terpaksa tetap menjualnya dengan harga eceran lama.
"Kalau (harga) bungkusan nggak ada perubahan, harganya kembang (dari toko grosir) saja yang berubah," keluhnya.
Kondisi serupa dirasakan oleh Aan, 42. Pedagang yang sehari-harinya berjualan nasi uduk ini sengaja banting setir menjadi penjual kembang musiman demi mengais berkah Ramadan.
Namun, harapannya tak sepenuhnya mekar. Tahun ini, ia harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli kembang grosiran yang naik menjadi Rp80 ribu per ember.

Lapak penjualan kembang tabur di TPU Kebon Nanas, Jakarta Timur. Foto: Metrotvnews.com/Zaenal Arifin.
"Kalau untuk saya sih tahun ini agak-agak merosot (pendapatan). Kita belanja (kembang) itu Rp80 ribu per ember, dan kita ecer Rp5.000 per kantong plastik," tutur ibu empat anak tersebut.
Aan menceritakan, meski puncak keramaian peziarah sempat terjadi pada Minggu, 15 Februari 2026 dengan penjualan mencapai 50 bungkus, hari ini dagangannya sepi peminat. Tak hanya kembang, air mawar yang ia jual pun mengalami kenaikan modal yang signifikan dari tingkat distributor.
"Kalau hari ini baru terjual 13 bungkus. Dulu sempat kita beli selusin itu Rp10 ribu sampai Rp15 ribu. Sekarang sudah Rp30 ribu per lusin," tandas Aan.
Kini, para pedagang di gerbang pemakaman ini hanya bisa berharap sisa hari menjelang bulan suci membawa sedikit lebih banyak keberuntungan. Di tengah kepungan harga bahan pokok yang merangkak naik, selembar uang Rp5.000 dari setiap bungkus kembang adalah penyambung napas bagi keluarga mereka.