Ilustrasi freepik
Kekerasan Seksual di Kampus Bukan Hal Baru, Pakar Bedah Penyebabnya
Muhamad Marup • 20 April 2026 09:29
Jakarta: Masyarakat dihebohkan dengan maraknya kasus pelecehan seksual di sejumlah kampus besar Indonesia pada pertengahan April 2026 ini. Hal ini menjadi ironi sebab terjadi di lingkungan pendidikan tinggi dan para pelakunya merupakan orang terdidik.
Psikolog sekaligus dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Nurfi Laili, mengatakan, kasus pelecehan seksual sebenarnya sudah terjadi sejak lama di lingkungan kampus. Saat ini menjadi tamai karena beberapa kasus terbongkar bersamaan.
Penyebab pelaku orang "terdidik"
Nurfi menyebut bahwa pada beberapa institusi, kondisi seperti ini bahkan cenderung ditutupi. Dengan demikian, selama ini tampak seolah tidak terjadi apa-apa karena tidak ada yang berani berbicara.Kasi Abdimas dan Kekayaan Intelektual DRPM Umsida itu, menilai pelaku yang seringkali berasal dari kalangan terdidik tidak lepas dari faktor kesadaran diri atau awareness yang rendah. Berikut adalah penyebab-penyebabnya.
Pendidikan bagus belum menjamin akhlak
Nurfi menekankan, pendidikan tinggi tidak otomatis menjamin seseorang memiliki pemahaman yang baik tentang menghargai diri sendiri dan orang lain.Nurfi mengatakan, pelaku pelecehan seksual seringkali menargetkan individu dengan harga diri rendah, karena dianggap lebih mudah menjadi korban. Menurutnya, pengenalan tentang harga diri harus dijadikan pondasi bahkan sejak anak berada di fase toilet training (sekitar 2 tahun).
“Meskipun dia sudah banyak belajar tentang ilmu, namun kalau kesadaran atas dirinya itu masih kurang, menurut saya itu juga bisa menjadi celah. Apalagi di lingkungan yang kurang baik pula,” katanya.
Pentingnya pola komunikasi keluarga
Selain itu, ia berpendapat bahwa pola komunikasi di dalam keluarga juga mempengaruhi seseorang untuk mengkomunikasikan apa yang dia pikirkan kepada orang lain. Ia juga mengaitkan fenomena ini dengan pola pengasuhan generasi sebelumnya yang cenderung memberikan fasilitas berlebih kepada anak.Kondisi tersebut, menurut Nurfi, justru melemahkan daya juang dan kepekaan sosial individu.
"Itu akan melemahkan kemampuan individu untuk bisa aware dengan dirinya, kebutuhannya, dan lingkungan sekitarnya," jelasnya.
Faktor circle
Nurfi mengungkapkan beberapa kasus yang terjadi di perguruan tinggi, kebanyakan pelaku melakukannya secara berkelompok. Pelaku kasus ini mencari pengakuan di dalam kelompoknya dan jika dia tidak mengikuti apa yang dilakukan kelompok tersebut maka ia akan diasingkan."Seseorang yang memiliki pikiran berbeda dari kelompok itu maka ia akan berpikir panjang. Dia tidak tahu bagaimana keluar dari situasi yang toxic tersebut sehingga yang dia lakukan hanya mengikuti arus agar punya teman" ucapnya.

Ilustrasi Pexels
Dampak bagi korban
Korban pelecehan seksual paling besar berdampak pada kondisi psikologis. Dalam jangka panjang, gangguan psikologis tersebut dapat berkembang menjadi gangguan fisik atau psikosomatis, seperti kecemasan, jantung berdebar, hingga reaksi ekstrem seperti pingsan atau freeze saat menghadapi situasi tertentu."Kalau tidak ditangani, respon fisiknya akan lebih besar. Bisa saja dia menarik diri dari lingkungan sosial," tuturnya.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun Google News Metrotvnews.com