Tiongkok Sebut Blokade AS atas Pelabuhan Iran Berbahaya dan Tak Bertanggung Jawab

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Guo Jiakun. (Antara)

Tiongkok Sebut Blokade AS atas Pelabuhan Iran Berbahaya dan Tak Bertanggung Jawab

Muhammad Reyhansyah • 15 April 2026 15:21

Beijing: Tiongkok mengecam langkah Amerika Serikat (AS) memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan Iran dengan menyebutnya sebagai tindakan “tidak bertanggung jawab dan berbahaya.”

Kementerian Luar Negeri Tiongkok menyatakan bahwa kebijakan tersebut berpotensi melemahkan kesepakatan gencatan senjata yang masih rapuh serta meningkatkan risiko terhadap keselamatan kapal yang melintasi Selat Hormuz.

Blokade tersebut mulai berlaku pada Senin, sehari setelah perundingan damai antara AS dan Iran di Pakistan berakhir tanpa kesepakatan.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa langkah itu bertujuan menekan Iran agar menghentikan ambisi nuklirnya. Sejumlah analis menilai kebijakan tersebut juga dimaksudkan untuk memberi tekanan kepada Tiongkok sebagai pembeli utama minyak Iran, agar mendorong Teheran membuka kembali jalur pelayaran di selat tersebut.

Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut blokade tersebut sebagai “pelanggaran serius” terhadap kedaulatan negaranya.

Hingga kini, kapal-kapal Tiongkok termasuk di antara yang masih bisa melintasi Selat Hormuz, meski tidak jelas apakah ada biaya tertentu yang harus dibayarkan kepada Iran.

Sikap Tiongkok

Blokade AS berpotensi mengganggu pasokan energi Tiongkok dan menimbulkan dampak ekonomi yang luas.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Guo Jiakun menegaskan bahwa stabilitas hanya dapat dicapai melalui penghentian konflik secara menyeluruh.

“Tiongkok meyakini bahwa hanya dengan mencapai gencatan senjata komprehensif dan mengakhiri perang, kondisi untuk meredakan situasi di selat dapat tercipta secara mendasar,” ujarnya, dikutip dari BBC, Rabu, 15 April 2026.

"Tiongkok mendesak semua pihak untuk mematuhi kesepakatan gencatan senjata, fokus pada arah umum dialog dan perundingan damai, mengambil tindakan nyata demi mendorong peredaan situasi di kawasan, serta memulihkan lalu lintas normal di selat tersebut sesegera mungkin," lanjutnya.

Guo turut membantah laporan bahwa Tiongkok tengah menyiapkan pengiriman sistem pertahanan udara ke Iran, dengan menyebut informasi tersebut “sepenuhnya tidak berdasar.”

"Jika AS bersikeras menggunakan hal ini sebagai alasan untuk mengenakan tarif tambahan terhadap Tiongkok, maka Tiongkok pasti akan mengambil langkah balasan yang tegas," tegas Guo.

Respons AS

Sementara itu, Wakil Presiden AS JD Vance menuduh Iran melakukan “terorisme ekonomi” melalui pembatasan di Selat Hormuz, dan menegaskan bahwa Washington akan merespons dengan langkah serupa.

“Jika Iran mencoba melakukan terorisme ekonomi, maka kami akan memastikan kapal Iran juga tidak dapat keluar,” ujarnya.

Amerika Serikat menyatakan bahwa blokade tidak akan menghambat kapal yang melintasi selat menuju pelabuhan non-Iran, dengan operasi angkatan laut difokuskan di Teluk Oman dan Samudra Hindia.

Namun, data pelayaran menunjukkan bahwa setidaknya empat kapal yang terkait dengan Iran tetap melintasi Selat Hormuz pada Selasa.

Di sisi lain, harga minyak dunia dilaporkan turun kembali di bawah 100 dolar AS per barel pada hari yang sama.

Gencatan senjata antara AS dan Iran yang mulai berlaku pada 8 April masih berlangsung, meskipun situasinya dinilai rapuh. Sejumlah isu krusial, termasuk status Selat Hormuz dan keterlibatan Lebanon, masih menjadi perdebatan antara kedua pihak.

Israel, yang menyatakan gencatan senjata hanya berlaku untuk Iran, terus melancarkan serangan terhadap Hizbullah di Lebanon. Sementara itu, perundingan langsung antara pejabat Lebanon dan Israel dijadwalkan berlangsung di Amerika Serikat dalam waktu dekat.

Baca juga:  Hari Kedua Blokade AS, Sejumlah Kapal Tanker Tertahan di Selat Hormuz

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)