Wapres Gibran Dorong Pesantren Jadi Pusat SDM dan Ekonomi

Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming menghadiri Pembukaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Lapangan Untung Suropati, Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Kamis, 27 Agustus 2026. Foto: Dok. Set Wapres

Wapres Gibran Dorong Pesantren Jadi Pusat SDM dan Ekonomi

Devi Harahap • 28 August 2026 10:59

Jakarta: Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming mendorong pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan keagamaan, tetapi juga berkembang sebagai pusat pengembangan sumber daya manusia (SDM) dan kekuatan ekonomi baru. Hal ini disampaikan Gibran saat menghadiri Pembukaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Lapangan Untung Suropati, Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Kamis, 27 Agustus 2026.

Muktamar ke-35 NU mengusung tema “Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmah untuk Kemaslahatan Bangsa”. Gibran hadir mendampingi Presiden Prabowo Subianto dalam agenda organisasi keagamaan tersebut.

Kehadiran Gibran dalam muktamar yang berlangsung pada 27–31 Agustus 2026 tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat komunikasi pemerintah dengan ulama, kiai, santri, dan kalangan pesantren. Dalam sejumlah dialog dengan ulama dan tokoh pesantren, Gibran mendorong penguatan kapasitas pesantren agar mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Para santri juga didorong menguasai berbagai teknologi, seperti kecerdasan buatan (AI), robotika, blockchain, serta teknologi pertanian dan peternakan modern. Dorongan tersebut diarahkan agar pesantren dapat menjadi bagian dari penguatan SDM sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat pesantren.

Gibran juga menekankan pentingnya generasi santri meneruskan semangat persatuan, cinta Tanah Air, keberanian berpikir maju, serta komitmen kebangsaan yang diwariskan para pendiri NU, termasuk KH Hasyim Asy’ari dan KH Abdul Wahab Chasbullah. Selain isu pendidikan dan teknologi, komunikasi Gibran dengan kalangan pesantren turut membahas sejumlah persoalan strategis nasional dan global. Di antaranya stabilitas nasional, penyelenggaraan haji, penguatan pesantren, pendidikan, hingga perlindungan warga negara Indonesia.

Sementara itu, Presiden Prabowo dalam sambutannya menegaskan NU memiliki posisi strategis dalam perjalanan bangsa. Ia menyebut NU sebagai salah satu aset besar Indonesia yang berperan dalam menjaga stabilitas, keamanan, dan perdamaian.

“Nahdlatul Ulama aset bangsa yang sangat-sangat besar, sama dengan Muhammadiyah,” kata Prabowo.

Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang, Jawa Timur. Foto: BPMI Setpres.

Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, juga menekankan pentingnya keselarasan antara arah perjuangan NU dan kepentingan bangsa serta negara. Menurutnya, NU memiliki hubungan historis yang tidak dapat dipisahkan dari Indonesia.

“Maka tidak boleh arah Nahdlatul Ulama ini tidak bersesuai dengan arah bangsa dan negara. Tepat yang dikatakan oleh Kyai Haji Wahab bahwa Nahdlatul Ulama dan Indonesia tidak boleh dan tidak mungkin bisa dipisahkan,” kata Yahya.

Kehadiran Gibran dalam Muktamar ke-35 NU sekaligus memperkuat komunikasi yang telah dibangun dengan ulama dan pesantren. Sebelumnya, keluarga besar Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas berharap Wapres dapat menjadi penghubung antara ulama, kiai pesantren, dan pemerintah.

Momentum tersebut diharapkan memperkuat sinergi pemerintah dan NU dalam menjawab berbagai tantangan bangsa. Khususnya melalui penguatan pendidikan, SDM, ekonomi pesantren, penguasaan teknologi, serta pembangunan karakter generasi muda.

(Siti Yona Hukmana)