El Nino dan Kebakaran Picu Banjir di Grand Canyon, Ini Penjelasannya

Banjir di Grand Canyon. (CNN)

El Nino dan Kebakaran Picu Banjir di Grand Canyon, Ini Penjelasannya

Riza Aslam Khaeron • 1 September 2026 16:26

Jakarta: Publik belakangan ini diramaikan oleh berita banjir bandang yang terjadi di beberapa negara. Bencana pertama terjadi di perbatasan Nepal-Tiongkok pekan lalu, yang telah menewaskan sekitar 1.000 orang saat berita ini disusun.

Sementara itu, bencana kedua melanda kawasan Grand Canyon, Arizona, Amerika Serikat, pada akhir pekan lalu.
 
Meski bukan yang terparah, banjir di Grand Canyon cukup menyita perhatian publik. Bagi masyarakat awam, Grand Canyon biasanya diidentikkan dengan lanskap yang tandus dan kering.

Namun, meski Arizona saat ini sedang berada di puncak musim panas, taman nasional terkemuka di AS tersebut justru diterjang banjir bandang yang mematikan.

Lantas, apa sebetulnya faktor yang memicu musibah tersebut? Berikut penjelasannya.
 

Badai Monsun dan El Nino Tingkatkan Curah Hujan


Ilustrasi awan badai di Grand Canyon. (riversandoceans.com)

Mengutip New York Times (NYT), peristiwa banjir bandang ini bermula pada Sabtu, 30 Agustus 2026, sekitar pukul 14.30 waktu setempat di area Bright Angel Canyon dan Phantom Ranch, Taman Nasional Grand Canyon.

Pihak Layanan Taman Nasional (NPS) menyatakan bahwa sedikitnya dua orang tewas dan 14 orang lainnya masih dinyatakan hilang setelah banjir bandang menerjang area tersebut.

Sebelum musibah terjadi, hujan deras dan badai petir memang sudah dilaporkan mengguyur kawasan sekitar. Meskipun Arizona sedang menjalani musim panas, wilayah ini secara periodik juga memasuki musim monsun yang biasanya terjadi pada bulan Juni hingga September yang identik dengan peningkatan curah hujan.

Oleh karena itu, kemunculan banjir singkat pada periode ini sebenarnya bukan hal yang asing di Arizona.

Namun, fenomena El Nino pada tahun ini dilaporkan membuat dampak musim monsun di kawasan gurun tersebut menjadi jauh lebih ekstrem dari biasanya.

Chad Merrill, meteorolog senior sekaligus prakirawan jangka panjang di AccuWeather, menjelaskan kepada Los Angeles Times bahwa pola iklim El Niño menyebabkan suhu permukaan laut di Pasifik meningkat secara tidak biasa.

Lonjakan suhu ini menambah kadar kelembapan di atmosfer, yang pada akhirnya memperkuat intensitas badai monsun hingga ke wilayah Grand Canyon.

"Kami memang sering mengalami badai petir konvektif seperti ini sepanjang musim panas, tetapi tidak pernah dengan intensitas sehebat ini," ujar Merrill, mengutip LA Times.
   

Kekeringan Panjang dan Kebakaran Hutan Perparah Banjir


Asap kebakaran Drago Bravo di Grand Canyon. (Wikimedia Commons)

Faktor lain yang turut memperparah skala banjir adalah kekeringan panjang yang melanda Grand Canyon. Wilayah tersebut sedang mengalami kekeringan berkepanjangan hingga memaksa otoritas taman menerapkan kebijakan pembatasan penggunaan air.

Kondisi tanah gurun yang terlalu lama mengering membuatnya memadat dan keras, sehingga daya resap airnya menurun drastis. Merrill menjelaskan bahwa kekeringan panjang ini membuat limpahan air hujan deras langsung mengalir cepat di permukaan tanah alih-alih terserap ke dalam bumi, memperbesar limpahan air banjir.

Kondisi ini juga diperburuk peristiwa kebakaran Dragon Bravo, kebakaran hebat yang menghanguskan hampir 60.700 hektar lahan dan hutan di taman nasional tersebut lebih dari satu tahun yang lalu. Kebakaran ini dinilai memicu aliran lumpur pekat yang terbawa ke dalam arus air.

Pada kondisi normal saat hutan dan vegetasi masih utuh, sebagian air hujan akan tertahan oleh dedaunan, diserap oleh tanah serta perakaran tumbuhan, lalu dilepaskan secara perlahan. Namun pascakebakaran, hilangnya vegetasi secara drastis membuat permukaan tanah kehilangan kemampuannya untuk menyerap air.

Akibatnya, air hujan langsung berubah menjadi limpasan air di permukaan. Aliran air deras tersebut kemudian mengikis dan membawa material seperti abu, tanah, batu, batang pohon, hingga puing-puing ke lembah di bawahnya.

"Ketika hutan telah terbakar habis, akan timbul banyak limpasan air dan lumpur yang sangat besar," kata Menteri Dalam Negeri AS, Doug Burgum, kepada KTAR News pada hari Senin.

"Oleh karena itu, jika Anda berdiskusi dengan para ahli di bidang kehutanan, satu atau dua tahun setelah kebakaran besar, ancaman banjir bandang memang menjadi perhatian utama yang telah kami antisipasi bersama para rimbawan profesional," tambahnya.

(Riza Aslam Khaeron)