BMKG: Bima Alami Kekeringan Ekstrem di NTB, 125 Hari Tanpa Hujan

Di tengah lahan gersang akibat kemarau di Desa Nusa Jaya, Dompu, seorang perempuan menimba air dari sumur tua untuk memberi minum sapi dan pedet miliknya. ANTARA/Ady Ardiansah

BMKG: Bima Alami Kekeringan Ekstrem di NTB, 125 Hari Tanpa Hujan

Lukman Diah Sari • 22 September 2026 11:37

Mataram: Kabupaten Bima menjadi wilayah dengan kekeringan ekstrem paling parah di Nusa Tenggara Barat (NTB). Kondisi ini ditandai dengan durasi Hari Tanpa Hujan (HTH) yang mencapai 125 hari atau lebih dari empat bulan, dengan wilayah terdampak paling panjang berada di Kecamatan Belo dan Kecamatan Bolo.

"Kami harap masyarakat menggunakan air secara bijak untuk mengantisipasi krisis air bersih," ujar Prakirawan Stasiun Klimatologi NTB, Cakra Mahasurya Atmojo Pamungkas, di Mataram, Selasa, 22 September 2026.

Fenomena HTH lebih dari empat bulan tersebut membuat Kabupaten Bima saat ini menghadapi ancaman kekeringan ekstrem. Cakra menjelaskan, kondisi kering itu terjadi lantaran curah hujan di wilayah NTB berada dalam kategori sangat rendah, yakni berkisar 0 sampai 50 milimeter per dasarian.

Pada Dasarian II September (11-20 September 2026), BMKG mencatat curah hujan tertinggi hanya sebanyak 9 milimeter per dasarian di Pos Hujan Suwela, Kabupaten Lombok Timur. Sifat hujan di wilayah NTB dalam periode tersebut didominasi kategori bawah normal, dan hanya sebagian kecil wilayah yang memiliki sifat hujan di atas normal.

Berdasarkan prakiraan BMKG, peluang hujan di sebagian besar wilayah NTB pada Dasarian III September (21-30 September 2026) masih tergolong sangat rendah, yakni di bawah 10 persen. Kondisi atmosfer ini turut dipengaruhi oleh fenomena El Nino kategori sangat kuat, dengan Indeks Nino 3.4 berada pada angka +2,6 derajat Celsius dan diprediksi bertahan hingga awal 2027.


Seorang peternak membawa hewan ternaknya untuk minum di satu-satunya sumber air yang tersisa di kawasan lahan kritis yang mengering akibat kemarau panjang di Desa Nusa Jaya, Kecamatan Manggelewa, Kabupaten Dompu. (ANTARA/Ady Ardiansah)


Saat ini, sejumlah daerah di NTB telah ditetapkan berstatus "Awas" kekeringan meteorologis. Wilayah tersebut mencakup Kabupaten Lombok Barat (Kecamatan Labuapi, Lembar), Lombok Timur (Kecamatan Jerowaru, Labuhan Haji, Pringgasela, Sakra Barat, Sembalun, Sukamulia), Lombok Utara (Kecamatan Gangga, Kayangan, Pemenang, Tanjung), dan Sumbawa Barat (Kecamatan Jereweh, Poto Tano, Taliwang).

Status Awas kekeringan meteorologis yang sama juga berlaku di Kabupaten Sumbawa (Kecamatan Batulanteh, Labuhan Badas, Lape, Moyo Utara, Moyohilir, Moyohulu, Rhee, Sumbawa, Unter Iwes), Kabupaten Dompu (Kecamatan Dompu, Kilo, Manggalewa, Pajo, Woja), Kabupaten Bima (Kecamatan Belo, Bolo, Donggo, Lambitu, Lambu, Palibelo, Sape, Soromandi), serta Kota Bima di Kecamatan Raba.

"Seluruh wilayah NTB saat ini masuk musim kemarau yang diperkuat oleh El Nino. Waspada terhadap potensi kebakaran hutan, lahan, maupun permukiman dengan tidak melakukan pembakaran sampah sembarangan atau meninggalkan sumber api tanpa pengawasan," pungkas Cakra.

(Lukman Diah Sari)