Dua Anak Harimau Mati di Bandung Zoo, Farhan Gercep Tingkatkan Biosecurity

Bandung Zoo atau Kebun Binatang Bandung. MI

Dua Anak Harimau Mati di Bandung Zoo, Farhan Gercep Tingkatkan Biosecurity

Media Indonesia • 26 March 2026 15:47

Bandung: Wali Kota Bandung Muhammad Farhan memastikan pihaknya langsung mengambil langkah cepat terkait kematian dua anak harimau Benggala (Panthera Tigris Tigris) di Kebun Binatang Bandung. Farhan mengaku bahwa tim medis langsung dikerahkan untuk menangani kematian dua hewan hasil penangkaran tersebut. 

"Kami bertanggungjawab. Virus itu bisa datang dari mana saja," kata Farhan saat meninjau Kebun Binatang Bandung, Kamis, 26 Maret 2026.

Berdasarkan hasil observasi tim medis, kata Farhan, kedua hewan tersebut terjangkit virus Panleukopenia sejak Februari 2026. Dia memastikan pihaknya bakal meningkatkan standard biosecurity untuk meminimalisasi penyebaran penyakit. Pengetatan pun akan dilakukan terhadap keberadaan hewan-hewan liar yang diduga kuat menularkan virus tersebut.

"Pemberian vaksin juga tidak boleh lewat," kata Farhan.


Wali Kota Bandung M Farhan. Metrotvnews.com/Roni Kurniawan

Sementara itu, tim dokter Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat, drh. Agnisa, menjelaskan, upaya penyelamatan telah dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan tim medis dari Rumah Sakit Cikole, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP), BBKSDA, serta tim internal Kebun Binatang Bandung.

?Berdasarkan hasil pemeriksaan saat itu, kondisi salah satu anak harimau sempat menunjukkan tanda-tanda vitalitas yang membaik. Secara teoritis, kata dia, masa kritis satwa tersebut sudah terlewati dan menunjukkan tanda-tanda akan kembali sehat.

?"Kami sempat happy karena melihat ada perbaikan dan berharap bisa pulih lagi. Kami tungguin terus dari kemarin," jelas dia.

?Namun, saat pergantian piket pada Kamis pagi, 26 Maret 2026, sekitar pukul 08.00, petugas melaporkan bahwa anak harimau kedua telah mati. Gejala klinis yang teramati sebelum kematian yakni muntah-muntah dan diare yang disertai darah pada feses.

"Hasil tes dari sampel feses menunjukkan kedua anakan harimau ini positif terpapar Panleukopenia," ungkap dia.


Tim BBKSDA Jawa Barat, drh. Agnisa (kanan) di Bandung, Kamis (26/3). (MI/ Bayu Anggoro)

Dia menjelaskan bahwa virus Panleukopenia memiliki masa inkubasi yang berbeda-beda. Virus tersebut bisa bangkit dan menimbulkan gejala saat kondisi hewan sedang lemah. 

Namun pihaknya belum bisa memberikan kesimpulan terkait sumber penularan. Saat ini, kata dia, harimau lainnya, termasuk induk dalam kondisi hewan dan tidak terjangkit virus Panleukopenia.

"Diduga faktor usia yang baru 8 bulan membuat anakan harimau sangat rentan terhadap serangan virus," ujar dia. ?Pasca-kejadian ini, pihaknya bersama pengelola termasuk Pemerintah Kota Bandung telah melakukan langkah-langkah sterilisasi. Seperti penyemprotan disinfektan dan pembersihan kandang secara intensif.

"Area sekitar kandang juga dijaga ketat agar tetap steril, bahkan petugas pun dilarang masuk sembarangan tanpa prosedur keamanan yang ketat," jelas dia.

Sebelumnya, seekor anak harimau Benggala bernama Hara berusia delapan bulan dinyatakan mati di Kebun Binatang Bandung pada Selasa, 24 Maret 2026. Hara dan Huru merupakan salah satu koleksi satwa di Bandung Zoo yang lahir pada 12 Juli 2025. Huru dan Hara lahir bersama dari pasangan induk jantan bernama Sahrulkan dan betina Jelita

Pemerintah Kota Bandung telah resmi mengambil alih pengelolaan Kebun Binatang Bandung sejak 5 Februari 2026. Pengambilalihan ini dilakukan setelah Kementerian Kehutanan mencabut izin lembaga konservasi Yayasan Margasatwan Tamansari (yang sebelumnya mengelola Kebun Binatang Bandung) akibat sengket lahan dan manajemen yang berkepanjangan. (MI/BY)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Lukman Diah Sari)