Prakirawan BMKG Samarinda, Fathul Hidayatullah saat menjelaskan terkait info cuaca terkini di Kota Samarinda. ANTARA/ HO- Diskominfo
Cuaca Panas di Samarinda Akibat Fenomena Ekuinoks
Whisnu Mardiansyah • 30 March 2026 21:27
Samarinda: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi cuaca panas terik yang melanda Kota Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim), dalam beberapa hari terakhir dipicu oleh fenomena Ekuinoks.
Prakirawan BMKG Samarinda Fathul Hidayatullah menjelaskan Ekuinoks merupakan siklus astronomi tahunan saat posisi semu Matahari berada tepat di atas garis khatulistiwa. Fenomena yang rutin terjadi pada bulan Maret dan September ini menyebabkan intensitas radiasi matahari di wilayah Kalimantan mencapai titik maksimal.
“Selain faktor posisi Matahari, minimnya tutupan awan dalam beberapa hari terakhir membuat radiasi surya langsung mencapai permukaan Bumi tanpa penghalang. Hal inilah yang menyebabkan suhu terasa sangat menyengat,” ujar Fathul di Samarinda seperti dilansir Antara, Senin, 30 Maret 2026.
Berdasarkan data dari Stasiun Meteorologi APT Pranoto, suhu maksimum di Samarinda telah menyentuh angka 34 derajat celsius. Namun masyarakat diimbau tidak hanya mewaspadai panas terik, karena tantangan cuaca yang lebih dinamis telah menanti di depan mata.
Baca Juga :
Antisipasi El Nino, BPBD Banyumas Siapkan Distribusi Air Bersih untuk 81 Desa Rawan Kekeringan
Menjelang akhir April hingga Mei, kata dia, wilayah Kalimantan Timur diprediksi akan memasuki masa peralihan atau pancaroba. Pada fase ini, pola cuaca cenderung berubah drastis dan berpotensi menjadi ekstrem. Fathul memaparkan pemanasan intens sejak pagi hari memicu pertumbuhan awan konvektif (Cumulonimbus) secara signifikan.
"Dampaknya adalah potensi hujan lebat berdurasi singkat pada sore atau malam hari yang sering kali disertai angin kencang," tambahnya.
BMKG juga memberikan edukasi agar masyarakat dapat membedakan jenis fenomena angin. Angin dikategorikan kencang jika kecepatannya melampaui 25 knot (45 km/jam). Kondisi ini berbeda dengan puting beliung yang memiliki karakteristik visual berupa pusaran angin spiral yang bersifat merusak.
.jpg)
Ilustrasi kemarau. Foto Freepik
BMKG memberikan imbauan kepada masyarakat dalam menghadapi cuaca ekstrem, yakni menjaga hidrasi tubuh dengan meningkatkan konsumsi air putih secara rutin untuk mencegah dehidrasi akibat suhu udara yang tinggi. Kedua, melakukan proteksi diri dengan menggunakan tabir surya (sunscreen) serta pelindung fisik seperti payung atau topi saat beraktivitas di luar ruangan.
Ketiga, mewaspadai pohon tumbang karena saat terjadi angin kencang pada masa pancaroba, hindari berlindung di bawah pohon besar, papan reklame, atau bangunan yang rapuh. Keempat, menjaga imun tubuh karena perubahan cuaca yang fluktuatif (panas ke hujan) rentan memicu penurunan stamina, flu, dan kelelahan.
Masyarakat diharapkan tetap memantau pembaruan informasi cuaca secara berkala melalui kanal resmi atau aplikasi Info BMKG untuk menunjang keselamatan selama beraktivitas.