Penyakit Kawasaki pada anak. Foto: ANTARA/Farika Nur Khotimah.
Ribuan Kasus Kawasaki di Indonesia Diduga Belum Terdiagnosis
Fachri Audhia Hafiez • 11 February 2026 08:39
Jakarta: Indonesia menghadapi tantangan serius dalam penanganan penyakit Kawasaki pada anak, di mana ribuan kasus diperkirakan muncul setiap tahun namun sebagian besar belum terdiagnosis secara akurat. Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. Dr. dr. Najib Advani, Sp.A(K), mengungkapkan bahwa ketiadaan data registrasi nasional membuat pemetaan penyakit ini masih bergantung pada pengamatan klinis dokter spesialis.
“Indonesia bagaimana sih berapa jumlah kasus di Kawasakinya? Enggak ada data jujur ya. Yang terjangkau sekitar 200 setahun. Saya sendiri sekitar 100 setahun pasien baru,” kata Najib dalam seminar daring bertema Kawasaki pada Anak, dilansir Antara, Selasa, 10 Februari 2026.
Baca Juga :
Antara Empati dan Kepuasan Tinggi
Najib memperkirakan insiden kasus baru Kawasaki di Indonesia mencapai 3.000 hingga 4.000 kasus per tahun. Namun, dari jumlah tersebut, hanya segelintir yang berhasil tertangani.
Sejak memulai sosialisasi pada 1999, ia telah menemukan lebih dari 2.000 kasus dari berbagai daerah. Masalah utama terletak pada gejala awal yang sering kali menyerupai penyakit lain, sehingga luput dari deteksi dini.
“Kalau enggak diobatin, 15–25 persen anak itu akan menderita arteri koroner,” tegas Najib.
Keterlambatan diagnosis ini berakibat fatal, karena banyak anak datang dalam kondisi sudah mengalami pelebaran arteri koroner. Kondisi tersebut meningkatkan risiko serangan jantung pada usia dini hingga keharusan menjalani operasi pintas pembuluh darah.

Ilustrasi. Foto: ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho/am.
Najib menambahkan, penyakit ini paling rentan menyerang balita. Terutama usia satu hingga dua tahun, dengan prevalensi lebih tinggi pada anak laki-laki.
Melalui edukasi yang berkelanjutan, diharapkan para tenaga medis dan orang tua dapat lebih waspada terhadap gejala Kawasaki guna mencegah cacat jantung permanen pada generasi mendatang.