Ilustrasi. Foto: Freepik.
Pelaku Pasar Kripto Perkuat Ekosistem Kripto Lewat Literasi Quantum Computing
Husen Miftahudin • 4 August 2026 17:14
Jakarta: Pelaku pasar kripto, Indodax, mendorong literasi dan pemahaman quantum computing kepada ekosistem blockchain, termasuk kripto. Karena belakangan teknologi ini bisa berbahaya terutama dari sisi keamanan kriptografi dan pengembangan infrastruktur. Namun, quantum computing juga bisa dimanfaatkan.
Chief Marketing Officer Indodax Aloysia Dian mengatakan pemahaman mengenai quantum computing perlu menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem blockchain yang lebih matang dan siap menghadapi perubahan teknologi.
"Perkembangan teknologi selalu menghadirkan tantangan sekaligus peluang. Meskipun quantum computing masih berada pada tahap riset dan pengembangan, potensinya terhadap sistem kriptografi telah menjadi perhatian komunitas global," ungkap Aloysia dalam acara ETH Genesis: Quantum Leap, dikutip dari keterangan tertulis, Selasa, 4 Agustus 2026.
"Karena itu, penting bagi seluruh pelaku industri untuk mulai memahami arah perkembangan ini agar ekosistem dapat beradaptasi secara bertahap melalui diskusi dan edukasi," tambah Aloysia menekankan.
Menurut dia, Ethereum selama satu dekade terakhir telah menjadi fondasi berbagai inovasi di ekosistem Web3, mulai dari decentralized finance (DeFi), non-fungible token (NFT), aplikasi berbasis smart contract, hingga tokenisasi aset.
Seiring perkembangan teknologi, pelaku industri dituntut terus meningkatkan standar keamanan dan membangun infrastruktur yang lebih adaptif terhadap tantangan di masa depan.
Baca Juga :
Bitcoin Naik Tipis ke USD63.700
Quantum computing belum jadi ancaman langsung
Aloysia menegaskan pembahasan mengenai quantum computing bukan berarti teknologi tersebut telah menjadi ancaman langsung bagi blockchain saat ini.
Menurutnya, perhatian para peneliti lebih mengarah pada potensi kemampuan komputer kuantum di masa depan untuk memecahkan sistem kriptografi yang digunakan dalam pengamanan aset digital apabila teknologinya telah mencapai tingkat kematangan tertentu.
"Hingga saat ini, quantum computing masih berada dalam tahap riset dan pengembangan. Ke depan, teknologi ini berpotensi dimanfaatkan untuk mempercepat berbagai proses komputasi yang kompleks dan mendorong lahirnya inovasi di berbagai sektor, termasuk kripto," papar dia.
"Di saat yang sama, komunitas blockchain global juga terus melakukan riset dan mengembangkan pendekatan baru agar ekosistem tetap aman seiring perkembangan teknologi tersebut," jelas Aloysia menambahkan.

(Acara ETH Genesis: Quantum Leap, yang digelar Indodax. Foto: dok Indodax)
Kolaborasi jadi kunci penguatan ekosistem
Aloysia menilai kesiapan menghadapi perkembangan teknologi tidak dapat dilakukan secara instan. Karena itu, diperlukan kolaborasi antara pelaku industri, pengembang, akademisi, dan komunitas untuk memastikan inovasi tetap berjalan seiring penguatan aspek keamanan.
"Membangun ekosistem blockchain yang siap menghadapi era komputer kuantum bukanlah proses yang sederhana. Dibutuhkan waktu untuk riset dan pengujian, pengembangan standar keamanan baru, serta kolaborasi lintas ekosistem agar transisi dapat dilakukan secara bertahap dan tetap menjaga kepercayaan pengguna," tegas dia.
Melalui penyelenggaraan ETH Genesis: Quantum Leap, Indodax berupaya mendorong literasi mengenai masa depan blockchain dan kriptografi di tengah perkembangan teknologi komputasi kuantum.
Forum tersebut membahas implikasi quantum computing terhadap keamanan blockchain, kesiapan membangun ekosistem yang lebih tangguh, serta pentingnya kolaborasi dalam menyiapkan fondasi teknologi untuk jangka panjang.
Indodax juga berharap pembahasan mengenai aset kripto tidak hanya berfokus pada pergerakan harga, tetapi turut memperluas pemahaman masyarakat mengenai teknologi dan sistem keamanan yang menjadi fondasi industri aset digital. Sebab, edukasi, riset, dan kolaborasi menjadi elemen penting untuk membangun ekosistem aset digital Indonesia yang semakin matang, aman, dan berkelanjutan.