Wakil Ketua Komisi V DPR dari Fraksi Partai NasDem, Roberth Rouw. Dok. Website Partai NasDem
Perlu Sistem Peringatan Dini Bencana Berbasis Komunikasi Warga
Achmad Zulfikar Fazli • 29 January 2026 14:34
Jakarta: Wakil Ketua Komisi V DPR dari Fraksi Partai NasDem, Roberth Rouw, menekankan pentingnya penguatan sistem peringatan dini bencana berbasis komunikasi masyarakat hingga tingkat desa dan kecamatan. Hal ini sebagai langkah strategis menghadapi keterbatasan sumber daya negara dalam penanganan bencana.
Dia menilai dengan struktur dan perangkat yang dimiliki saat ini, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) tidak mungkin menjangkau seluruh wilayah rawan bencana secara cepat.
“Kalau kita lihat struktur yang ada dari Basarnas, itu hampir tidak mungkin ada di sana, karena perangkat Bapak sangat terbatas,” ujar Roberth dalam Rapat Kerja Komisi V DPR dengan seluruh mitra kerja, di Kompleks Parlemen, Jakarta, dilansir pada Kamis, 29 Januari 2026.
Menurut dia, kondisi tersebut menuntut pendekatan baru yang lebih adaptif dan partisipatif, memanfaatkan kemajuan teknologi komunikasi yang telah menjangkau hampir seluruh wilayah Indonesia.
“Sekarang ini komunikasi hampir di seluruh Indonesia sudah bisa dilakukan dengan perangkat handphone. Maka sudah sepantasnya ke depan, daerah-daerah yang harusnya dipetakan dan berpotensi terdampak bencana ini sudah diberikan guidance untuk menyiapkan diri,” jelas dia.
Baca Juga:
Ini Sebaran 28 Titik Banjir di Kota Bekasi |

Kondisi banjir di Gang Mawar, Margahayu, Kota Bekasi. MTVN/Antonio
Roberth mengusulkan pembentukan grup komunikasi berbasis wilayah, mulai dari tingkat kecamatan hingga kabupaten, khususnya di daerah hulu dan hilir sungai. Dengan sistem ini, informasi potensi bencana dapat disampaikan secara cepat dan berantai.
“Dengan grup per kecamatan dan kabupaten, maka satu daerah yang di hilir sudah tahu kalau di hulu terjadi sesuatu. Grup ini harus dibuat,” tegas legislator Fraksi Partai NasDem tersebut.
Dia mencontohkan praktik mitigasi banjir di kawasan Sungai Cikeas. Warga setempat memasang alat penanda ketinggian air sederhana dan terhubung sistem komunikasi warga.
“Kalau hujan dan batas air sudah mau banjir, itu alarmnya berbunyi, dan semua warga yang ada di grup langsung mendapat peringatan. Mereka sudah bisa menyiapkan diri sebelum banjir datang,” ungkap dia.
Menurut Roberth, model komunikasi warga seperti ini terbukti efektif dan dapat direplikasi secara nasional. Terutama, untuk mengatasi keterlambatan informasi yang sering terjadi dalam penanganan bencana.
“Tadi disampaikan dari Aceh, butuh waktu sampai 10 jam baru informasi itu sampai. Ini yang harus kita perbaiki,” kata dia.
Dia juga menyinggung contoh banjir di wilayah Bogor yang dampaknya sudah dapat diprediksi hingga Jakarta. Hal ini menunjukkan komunikasi lintas wilayah sangat mungkin dilakukan.
“Bogor sudah menyampaikan ke Jakarta untuk siap-siap karena Bogor sudah tidak sanggup. Hal seperti ini harus menjadi sistem ke depan,” ujar dia.
Roberth berharap perangkat desa dapat menjadi ujung tombak dalam sistem peringatan dini tersebut, dengan dukungan pemerintah pusat melalui pembinaan dan panduan teknis.
“Kita harapkan perangkat desa bisa menjalankan ini semuanya. Ini masukan saya untuk Pak Menteri Desa,” ujar dia.