Seniman, Jay Subyakto dalam Program Q&A Metro TV, Minggu, 20 September 2026, pukul 21.05 WIB. Foto: Tangkapan layar Youtube Metro TV
Jay Subyakto Bahas Posisi AI dalam Seni dan Proses Kreatif
Muhamad Marup • 20 September 2026 22:00
Jakarta: Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah masuk ke seluruh aktivitas, termasuk seni. Seniman, Jay Subyakto, menilai AI yang ia sebut sebagai Akal Imitasi menjadi tantangan tersendiri dalam proses kreatif para seniman.
"Apalagi zaman sekarang, orang kan dulu selalu lihat referensi, sekarang lebih bahaya lagi ada akal imitasi atau AI," ujar Jay, dalam Program Q&A Metro TV, Minggu, 20 September 2026, pukul 21.05 WIB.
Ia tidak membenci kehadiran AI dalam seni sebab menurutnya AI hanya alat. Hanya saja, saat ini AI tidak sekadar sebagai referensi, tapi juga bisa membuat sesuatu.
AI sebagai referensi, lanjut Jay, justru dapat membantu para seniman. Menurutnya, seniman harus lebih terpacu untuk membuat sesuatu yang otentik seiring kehadiran AI.
"Sebenarnya ini memacu kita untuk jangan bikin yang pernah udah dibikin. Karena itu semua sudah dirangkum oleh AI," jelasnya.

Seniman, Jay Subyakto dan salah satu karyanya. Foto: Tangkapan layar Youtube Metro TV
Jay mengungkapkan, menghadirkan sesuatu yang baru merupakan filosofinya dalam berkarya. Untuk menambah referensi, ia bahkan mencoba melakukan berbagai aktivitas seperti melihat pameran lukisan atau mendaki gunung.
"Dari situ justru dapat ide-ide yang orisinal, dan juga dari pengalaman pribadi, karena buat saya itu yang penting," katanya. Lulusan Arsitektur Universitas Indonesia itu juga terbantu dengan keilmuan yang dipelajari ketika kuliah. Menurutnya, arsitektur mengajarkan berbagai macam pengetahuan yang membantunya dalam berkarya.
"Jadi arsitektur buat saya adalah ibu dari semua ilmu pengetahuan, karena di situ kita belajar matematik, tapi kita juga belajar mekanika teknik, dan kita belajar seni juga," ucapnya.
"Apalagi zaman sekarang, orang kan dulu selalu lihat referensi, sekarang lebih bahaya lagi ada akal imitasi atau AI," ujar Jay, dalam Program Q&A Metro TV, Minggu, 20 September 2026, pukul 21.05 WIB.
Ia tidak membenci kehadiran AI dalam seni sebab menurutnya AI hanya alat. Hanya saja, saat ini AI tidak sekadar sebagai referensi, tapi juga bisa membuat sesuatu.
AI sebagai referensi, lanjut Jay, justru dapat membantu para seniman. Menurutnya, seniman harus lebih terpacu untuk membuat sesuatu yang otentik seiring kehadiran AI.
"Sebenarnya ini memacu kita untuk jangan bikin yang pernah udah dibikin. Karena itu semua sudah dirangkum oleh AI," jelasnya.
.jpg)
Seniman, Jay Subyakto dan salah satu karyanya. Foto: Tangkapan layar Youtube Metro TV
Jay mengungkapkan, menghadirkan sesuatu yang baru merupakan filosofinya dalam berkarya. Untuk menambah referensi, ia bahkan mencoba melakukan berbagai aktivitas seperti melihat pameran lukisan atau mendaki gunung.
"Dari situ justru dapat ide-ide yang orisinal, dan juga dari pengalaman pribadi, karena buat saya itu yang penting," katanya. Lulusan Arsitektur Universitas Indonesia itu juga terbantu dengan keilmuan yang dipelajari ketika kuliah. Menurutnya, arsitektur mengajarkan berbagai macam pengetahuan yang membantunya dalam berkarya.
"Jadi arsitektur buat saya adalah ibu dari semua ilmu pengetahuan, karena di situ kita belajar matematik, tapi kita juga belajar mekanika teknik, dan kita belajar seni juga," ucapnya.