Diskarmatan Kota Bandung Waspadai Gas Metana di TPS Punclut

Petugas saat melakukan proses pendinginan kejadian kebakaran di TPS Punclut, Kota Bandung, Jawa Barat, Selasa, 15 September 2026. ANTARA/Rubby Jovan

Diskarmatan Kota Bandung Waspadai Gas Metana di TPS Punclut

Silvana Febiari • 15 September 2026 13:48

Kota Bandung: Dinas Kebakaran dan Penyelamatan (Diskarmatan) Kota Bandung mewaspadai potensi munculnya gas metana dari timbunan sampah di tempat pembuangan sampah (TPS) di kawasan Puncak Ciumbuleuit (Punclut), Senin malam, 14 September 2026.

Kepala Diskarmatan Kota Bandung Soni Bakhtiar mengatakan potensi gas metana menjadi salah satu perhatian petugas di lokasi. Sebab, terdapat tumpukan sampah yang telah lama berada di sekitar area kebakaran.

“Kita mengantisipasi jangan sampai ada timbunan gas metan dari tumpukan sampah yang cukup lama. Ini juga sedang kita asesmen apakah ada gas metananya atau tidak,” kata Soni, dilansir dari Antara, Selasa, 15 September 2026. 


Masyarakat diimbau berhati-hati terhadap aktivitas pembakaran sampah. Pasalnya, tumpukan sampah berpotensi menghasilkan gas metana yang dapat meningkatkan risiko kebakaran.

“Setiap tumpukan sampah pasti ada gas metananya. Mau itu kompos, mau itu sampah, pasti ada gas metananya. Oleh karenanya, berhati-hatilah pada saat melakukan pembakaran sampah, apalagi di tempat pembuangan sampah. Ini sangat membahayakan,” ujarnya.

Soni mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran sampah, terutama selama musim kemarau. Pembakaran sampah dapat dengan cepat merambat ke rumput, alang-alang, maupun lahan kering di sekitarnya.

“Kami sudah sering mengimbau kepada warga masyarakat di musim kemarau ini jangan melakukan pembakaran sampah. Karena takut merembet ke lahan-lahan lain yang kosong atau rumput-rumput liar, ilalang yang sudah mengering,” ungkapnya.


Petugas saat melakukan proses pendinginan kejadian kebakaran di TPS Punclut, Kota Bandung, Jawa Barat, Selasa, 15 September 2026. ANTARA/Rubby Jovan


Soni menduga kebakaran lahan di kawasan Punclut bermula dari pembakaran sampah yang mengering akibat musim kemarau. Hal ini membuat api cepat merambat ke lahan yang dipenuhi alang-alang.

Menurutnya, api merambat ke area yang dipenuhi alang-alang sehingga proses pemadaman berlangsung cukup sulit. “Sehingga ini merambat ke lahan yang dipenuhi juga dengan alang-alang, sehingga api sangat cepat rambatannya,” ucapnya.

Soni memastikan lokasi kebakaran cukup jauh dari permukiman warga, yakni sekitar 500 meter. Api hingga saat itu belum mengancam rumah penduduk.

“Kalau SOP kita, setiap terjadi TK65 atau kebakaran itu harus dituntaskan sampai selesai,” tutur Soni.

Saat ini, kebakaran di lahan tersebut telah memasuki tahap pendinginan. Proses ini dilakukan untuk memastikan tidak ada lagi titik api yang berpotensi memicu kebakaran kembali.

(Silvana Febiari)