Kenapa Hari Buruh Disebut May Day? Simak Sejarahnya

Foto peringatan May Day. (peoplesworld.org)

Kenapa Hari Buruh Disebut May Day? Simak Sejarahnya

Riza Aslam Khaeron • 30 April 2026 18:09

Jakarta: Dunia akan kembali memperingati Hari Buruh Internasional pada 1 Mei 2026. Sebelumnya, organisasi buruh di Indonesia telah berdiskusi dengan Presiden Prabowo Subianto untuk menyampaikan berbagai tuntutan para pekerja.
 
Terlepas dari isu ketenagakerjaan yang berkembang, hari penting ini lazim disebut dengan istilah May Day atau hari Mei. Namun, apakah ada alasan khusus di balik penamaan tersebut? Berikut ulasannya.
 

Sejarah Istilah May Day


Gambar: Lukisan Maypole pada hari May Day di Belanda. (Pieter Brueghel/abad ke-16)

Mengutip Britannica, istilah May Day sebenarnya sudah eksis jauh sebelum gerakan buruh massal muncul pada abad ke-19. Awalnya, istilah ini merujuk pada tradisi festival musim semi di Eropa yang biasa dirayakan setiap tanggal 1 Mei.

Akar tradisinya dapat ditarik hingga masa Republik Romawi. Kala itu, masyarakat menyelenggarakan dua festival besar: Floralia (festival untuk Flora, dewi bunga Romawi, yang diadakan pada 27 April hingga 3 Mei) serta Maiouma atau Maiuma (festival untuk merayakan Dionisos dan Afrodit yang diadakan setiap tiga tahun sekali pada bulan Mei).

Namun, istilah May Day mulai identik dengan Hari Buruh Internasional pasca peristiwa berdarah di Haymarket pada tahun 1886. Abad ke-19 merupakan masa keemasan aktivisme buruh, salah satunya adalah gerakan delapan jam kerja (The eight-hour day movement). Berdasarkan catatan Industrial Workers of the World (IWW),

kondisi buruh pada masa itu sangat memprihatinkan. Berdasarkan laporan IWW, saat itu, buruh umum harus bekerja selama 10 hingga 16 jam dalam lingkungan yang tidak aman. Kecelakaan kerja hingga kematian menjadi pemandangan biasa di banyak tempat kerja.

Kondisi tersebut memicu reaksi keras yang menuntut hak buruh yang lebih layak, salah satunya di kota Chicago, Amerika Serikat (AS). Pada konvensi nasional di Chicago tahun 1884, Federasi Organisasi Dagang dan Serikat Buruh (yang kemudian menjadi Federasi Buruh Amerika) memproklamasikan bahwa "delapan jam harus menjadi standar waktu kerja legal yang berlaku mulai 1 Mei 1886."

Pada hari yang dinanti tersebut, 1 Mei 1886, lebih dari 300.000 pekerja dari 13.000 perusahaan di seluruh Amerika Serikat melakukan aksi mogok kerja massal. Peristiwa ini dicatat sebagai perayaan May Day pertama dalam sejarah.
 
Baca Juga:
Sejarah Hari Buruh, Pentingnya May Day bagi Kesejahteraan Buruh

Di Chicago, yang menjadi pusat pergerakan, sebanyak 40.000 buruh turun ke jalan.

Aksi damai ini sayangnya berujung pada bentrokan dua hari kemudian. Pada 3 Mei 1886, kekerasan pecah di McCormick Reaper Works antara pihak kepolisian dan para pemogok yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa. Mengutip Britannica, tujuh petugas polisi tewas dan 60 lainnya luka-luka, sementara korban di pihak sipil diperkirakan mencapai empat hingga delapan orang tewas serta puluhan lainnya luka-luka.


Lukisan yang menggambarkan kerusuhan Haymarket. (Thure de Thulstrup tahun 1886/Wikimedia Commons)
.
Sebagai bentuk penghormatan, pada tahun 1889, pertemuan kelompok sosialis internasional pertama di Paris menyetujui proposal untuk mengadakan demonstrasi internasional pada peringatan protes Chicago tahun 1890.
Hari Buruh Internasional akhirnya diakui secara resmi sebagai acara tahunan pada kongres kedua Internasional di Brussels tahun 1891 dan ditetapkan setiap tanggal 1 Mei.

Mengutip Britannica, memasuki abad ke-20, tradisi tradisional May Day sebagai festival musim semi, yang terjadi di hari yang sama dengan hari buruh, mulai memudar di berbagai negara dan perlahan-lahan mulai diasosiasikan untuk memperingati hari buruh.

Berdasarkan IWW, kini May Day telah menjadi hari libur resmi di 66 negara dan dirayakan secara tidak resmi di banyak negara lainnya.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Arga Sumantri)