Musim Tanam Padi Mundur, Kutai Timur Terancam Defisit Beras

Petani di Kecamatan Sangatta Selatan, Kabupaten Kutai Timur, belum melakukan penanaman padi akibat kemarau panjang. ANTARA/Muhammad Hafif Nikolas

Musim Tanam Padi Mundur, Kutai Timur Terancam Defisit Beras

Whisnu Mardiansyah • 22 October 2026 08:06

Kutai Timur: Kemarau berkepanjangan yang melanda Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, menghambat jadwal penanaman padi. Kondisi ini berpotensi menekan produksi beras pada awal tahun depan dan memperlebar kesenjangan antara kebutuhan masyarakat dan kemampuan produksi lokal.

“Yang kita khawatirkan adalah target produksi di bulan Januari mendatang akan jauh berkurang akibat penundaan tanam karena kemarau,” kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Kutai Timur Dyah Ratnaningrum di Sangatta, seperti dilansir Antara, Rabu, 21 Oktober 2026.

Dyah menyampaikan, laporan Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Kutai Timur menunjukkan banyak petani padi belum memulai penanaman. Padahal, musim tanam untuk periode tersebut semestinya dimulai pada Oktober 2026.

Penundaan terjadi karena kondisi lahan pertanian yang mengering hingga mengalami retakan. Situasi tersebut menyulitkan petani untuk memulai kegiatan tanam sesuai jadwal.

Dampak kemarau terhadap kegiatan pertanian menjadi perhatian karena produksi beras lokal Kutai Timur masih jauh di bawah kebutuhan masyarakat. Berdasarkan neraca bahan pangan harian Dinas Ketahanan Pangan setempat, kebutuhan beras mencapai 47.573 ton per tahun, sedangkan produksi lokal tercatat sebanyak 8.449 ton per tahun.
 


Kesenjangan tersebut membuat pemenuhan kebutuhan beras masyarakat masih bergantung pada pasokan dari luar daerah. Penundaan musim tanam berpotensi semakin menekan kemampuan produksi lokal apabila kondisi kemarau terus menghambat kegiatan pertanian.

Untuk menjaga ketersediaan beras, Dinas Ketahanan Pangan Kutai Timur berkoordinasi dengan Badan Pangan Nasional (Bapanas) dan Perum Bulog guna memastikan pasokan dari luar daerah tetap terjaga.

“Untuk kebutuhan beras, kami terus berkoordinasi dengan Bapanas dan Bulog agar pasokan dari luar daerah tetap terjaga,” ujarnya.



Ilustrasi kemarau. ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/foc.


Di sisi lain, pemerintah daerah juga berupaya meningkatkan produksi pangan lokal untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari wilayah lain.

“Kami juga terus mendorong peningkatan produksi pangan lokal untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah,” katanya lagi.

Selain memastikan ketersediaan pasokan, Pemerintah Kabupaten Kutai Timur menyiapkan langkah untuk menjaga stabilitas harga pangan melalui Gerakan Pasar Murah. Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung pada Desember dengan menyediakan beras dari Bulog bagi masyarakat.

(Whisnu M)