Rumah sakit di Gaza tidak bisa beroperasi secara penuh selama setahun terakhir. Foto: Anadolu
Hampir Setahun Gencatan Senjata, Tak Ada Rumah Sakit Beroperasi Penuh di Gaza
Muhammad Reyhansyah • 9 October 2026 10:29
Gaza: Tidak ada satu pun rumah sakit di Gaza yang kembali beroperasi dengan kapasitas penuh hampir setahun setelah gencatan senjata mulai berlaku pada Oktober 2025.
Menurut laporan Physicians for Human Rights-Israel, Kamis, 8 Oktober 2026, kondisi tersebut menunjukkan sistem kesehatan di wilayah Palestina itu belum pulih.
Dalam laporan yang menilai kondisi sistem kesehatan Gaza hingga 2026, organisasi tersebut menyebut jumlah rumah sakit yang kembali beroperasi sebagian memang meningkat.
Namun, pemulihan layanan medis masih jauh dari memadai, sementara kekurangan obat-obatan dan perlengkapan medis semakin parah.
“Jumlah tempat tidur perawatan intensif praktis tidak berubah, kekurangan obat-obatan dan perlengkapan medis esensial semakin memburuk, sementara ribuan pasien tetap tidak mendapatkan perawatan penyelamat nyawa yang tidak tersedia di Gaza,” kata organisasi tersebut, dikutip dari TRT World, Jumat, 8 Oktober 2026.
Pada Oktober 2025, sebanyak 14 dari 36 rumah sakit di Gaza beroperasi sebagian. Hampir setahun kemudian, jumlahnya meningkat menjadi 20 rumah sakit, tetapi tidak satu pun mampu beroperasi secara penuh.
Jumlah tempat tidur perawatan intensif juga hanya bertambah dari 103 pada Oktober 2025 menjadi 104 pada Juli 2026. Sementara itu, layanan dialisis ginjal justru mengalami penurunan.
Layanan dialisis tersedia di 17% fasilitas kesehatan pada Oktober 2025, tetapi turun menjadi 12% pada Juli 2026. Layanan pencitraan menggunakan MRI juga masih belum tersedia di Gaza.
Pasokan Medis Masih Terbatas
Physicians for Human Rights-Israel menyebut kekurangan obat-obatan dan perlengkapan medis masih menjadi persoalan utama. Berdasarkan data Koordinator Kegiatan Pemerintah Israel di Wilayah (COGAT), sebanyak 69% pasokan medis yang disetujui masuk ke Gaza pada Januari hingga Mei 2026 dilaporkan tidak benar-benar tiba di wilayah tersebut.Laporan itu juga menyoroti dampak penutupan perlintasan dan pembatasan yang menghalangi warga Palestina meninggalkan Gaza untuk mendapatkan perawatan medis.
“Pasien meninggal saat menunggu evakuasi,” kata organisasi tersebut.
Sebelum Oktober 2023, sekitar 50 hingga 100 pasien meninggalkan Gaza setiap hari untuk menjalani perawatan medis. Namun, antara 10 Oktober 2025 hingga pertengahan September 2026, hanya sekitar 3.423 pasien yang dievakuasi ke luar negeri.
Menurut laporan tersebut, tingkat evakuasi itu tiga hingga enam kali lebih rendah dibandingkan sebelum perang, meskipun kebutuhan perawatan di luar Gaza meningkat tajam.
Organisasi itu juga mengutip data Klaster Kesehatan WHO yang menyebut pasukan Israel menewaskan sedikitnya 1.422 warga Palestina dan melukai 5.150 lainnya sejak pengumuman gencatan senjata hingga akhir September 2026.
Ribuan Pasien Butuh Dialisis
Secara terpisah, Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Gaza Munir al-Bursh mengatakan lebih dari separuh pasien dialisis di wilayah tersebut telah meninggal di tengah blokade Israel dan keruntuhan sistem layanan kesehatan.Menurut al-Bursh kepada Anadolu, Gaza memiliki sekitar 1.400 pasien dialisis sebelum perang. Jumlah itu kini turun menjadi sekitar 600 pasien, yang ia kaitkan dengan kematian akibat tidak tersedianya pengobatan rutin.
Al-Bursh mengatakan lebih dari 20.000 pasien dan korban luka membutuhkan evakuasi segera untuk memperoleh perawatan di luar Gaza.
Ia juga menyebut pengaturan yang memungkinkan sekitar 300 pasien meninggalkan Gaza setiap hari belum diterapkan oleh Israel. Saat ini, menurutnya, hanya sekitar 25 pasien yang diizinkan keluar setiap hari.
Pada April, data PBB menunjukkan lebih dari 18.500 pasien membutuhkan evakuasi medis, termasuk sekitar 4.000 anak.
Al-Bursh mendesak masyarakat internasional mengambil tindakan segera untuk menekan Israel agar mengizinkan masuknya obat-obatan dan peralatan medis, merehabilitasi rumah sakit, mengizinkan tenaga medis kembali, serta menyetujui evakuasi pasien dan korban luka.
Hampir 500 Ribu Operasi Dibutuhkan
Al-Bursh mengatakan lebih dari 174.000 orang terluka sejak dimulainya perang. Menurutnya, setiap korban pada awalnya membutuhkan rata-rata sedikitnya tiga operasi.Dengan demikian, Gaza membutuhkan hampir 500.000 prosedur bedah kompleks, sementara sistem kesehatannya nyaris tidak memiliki sumber daya untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Ia memperingatkan bahwa stok medis telah mencapai tingkat yang sangat rendah. Kekurangan tempat tidur dan obat-obatan esensial mencapai 52%, sedangkan kekurangan perlengkapan medis mencapai 56%.
“Tidak ada peralatan medis baru yang diizinkan masuk ke Gaza sejak dimulainya serangan Israel,” kata al-Bursh.
Pada September, Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) juga mencatat kekurangan obat-obatan untuk penyakit kronis, termasuk persediaan yang dibutuhkan pasien penyakit ginjal, masih berlangsung di Gaza.