Ilustrasi emas batangan. Foto: goldmarket.fr
Tekanan Jual Masih Dominan, Begini Proyeksi Harga Emas Hari Ini
Husen Miftahudin • 24 June 2026 11:14
Jakarta: Harga emas diperkirakan masih berada di bawah tekanan pada perdagangan Rabu, 24 Juni 2026. Berdasarkan analisis Dupoin Futures, pergerakan emas masih berada dalam tren menurun dengan peluang koreksi lanjutan menuju area support yang lebih rendah.
Kombinasi faktor teknikal dan fundamental dinilai masih mendukung potensi pelemahan harga dalam jangka pendek. Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit menyebutkan secara teknikal, emas belum menunjukkan tanda pembalikan arah yang kuat pada grafik harian (daily).
"Struktur pergerakan harga saat ini masih menunjukkan kecenderungan bearish. Selama belum ada sinyal pembalikan yang jelas, peluang pelemahan masih cukup besar," ujar Geraldo dikutip dari analisis harian, Rabu, 24 Juni 2026.
Geraldo menjelaskan, area support di level USD4.060 per troy ons menjadi titik perhatian pelaku pasar dalam jangka pendek. Jika tekanan jual berlanjut, level tersebut berpotensi menjadi area uji berikutnya. Apabila level USD4.060 per troy ons berhasil ditembus, tekanan jual dinilai dapat berlanjut lebih dalam dengan target lanjutan di kisaran USD4.023 per troy ons.
Indikator Stochastic juga menunjukkan pelemahan dengan arah turun menuju area oversold. Kondisi ini menandakan momentum penurunan masih berlangsung, meski potensi rebound teknikal tetap terbuka. Namun demikian, konfirmasi tambahan masih diperlukan untuk memastikan adanya perubahan arah tren.
| Baca juga: Prospek Harga Emas Direvisi Turun, Kebijakan The Fed Jadi Sorotan |
Dolar AS dan imbal hasil tekan harga emas
Dari sisi fundamental, harga emas turut mendapat tekanan dari penguatan dolar Amerika Serikat (AS). Penguatan dolar membuat emas menjadi lebih mahal bagi investor global, sehingga menekan permintaan.
Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury Yield turut menjadi sentimen negatif. Sebagai aset tanpa imbal hasil, emas cenderung kurang diminati saat investor dapat memperoleh return lebih tinggi dari instrumen berbasis dolar.
Pelaku pasar kini mencermati rilis sejumlah data ekonomi Amerika Serikat yang dapat memengaruhi arah kebijakan moneter Federal Reserve. Jika data inflasi, ketenagakerjaan, dan aktivitas ekonomi menunjukkan hasil lebih kuat dari perkiraan, ekspektasi suku bunga tinggi dalam jangka lebih lama dapat meningkat. Kondisi ini biasanya memberikan dukungan tambahan bagi dolar AS dan menekan harga emas.
Sebaliknya, pelemahan data ekonomi dapat membuka peluang pelonggaran kebijakan moneter dan menjadi sentimen positif bagi emas.
.jpg)
(Ilustrasi pergerakan harga emas. Foto: dok Bappebti)
Risiko geopolitik masih jadi penopang
Meski tekanan dominan masih berasal dari faktor makroekonomi, risiko ketidakpastian global tetap menjadi faktor yang dapat menopang harga emas. Ketegangan geopolitik, perlambatan ekonomi global, serta volatilitas pasar keuangan berpotensi meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven seperti emas.
Dalam kondisi ketidakpastian, investor cenderung mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman untuk menjaga nilai portofolio.
Secara keseluruhan, Dupoin Futures menilai harga emas masih berada dalam tekanan dengan tren bearish yang belum menunjukkan pembalikan yang signifikan. Selama belum muncul sinyal perubahan arah yang kuat, pelemahan menuju area USD4.060 per troy ons hingga USD4.023 per troy ons masih menjadi skenario yang paling mungkin terjadi.
"Pelaku pasar disarankan untuk mencermati perkembangan data ekonomi AS dan dinamika global yang dapat memengaruhi arah pergerakan emas dalam jangka pendek," kata Geraldo mengingatkan.