Ekspor Lidi Sawit ke Tiongkok, Hilirisasi Sawit Indonesia Semakin Berkembang

BPDP bersama ASPEKPIR Indonesia melepas ekspor perdana 28 ton lidi sawit ke Tiongkok. Foto: dok Istimewa.

Ekspor Lidi Sawit ke Tiongkok, Hilirisasi Sawit Indonesia Semakin Berkembang

Husen Miftahudin • 20 June 2026 15:50

Jakarta: Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bersama Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perusahaan Inti Rakyat (ASPEKPIR) Indonesia melepas ekspor perdana 28 ton lidi sawit ke Tiongkok. Pelepasan dilakukan di gudang PT Arra Setya Abadi, Belawan, Medan, Sumatra Utara.

Produk lidi sawit tersebut berasal dari perkebunan kelapa sawit di Provinsi Riau, Sumatra Utara, dan Aceh. Bahan baku dikumpulkan serta diolah oleh petani sawit, pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), serta koperasi anggota ASPEKPIR melalui program pemberdayaan UMKM dan koperasi yang dijalankan bersama BPDP.

Dalam program ini, ASPEKPIR menggandeng PT Arra Setya Abadi sebagai eksportir untuk memasarkan produk lidi sawit ke pasar internasional. Direktur Hukum dan Kerja Sama BPDP dalam sambutan tertulis yang dibacakan Anwar Sadat, menyampaikan BPDP telah lama mempromosikan potensi nilai tambah dari produk samping dan limbah kelapa sawit, termasuk lidi sawit.

Kerja sama dengan ASPEKPIR dilakukan melalui berbagai workshop dan diseminasi sejak 2024 hingga saat ini. Rangkaian workshop produksi lidi sawit telah dilaksanakan di sejumlah daerah, seperti Kabupaten Siak, Kampar, Bengkalis, Muaro Jambi, Belitung Timur, hingga Pasangkayu, Sulawesi Barat. Program ini bertujuan mengenalkan potensi lidi sawit sekaligus meningkatkan kapasitas petani agar kualitas produk sesuai standar ekspor.

"BPDP sangat mendukung dan mengapresiasi kegiatan ini karena mampu memberikan manfaat ekonomi langsung kepada masyarakat serta menunjukkan limbah sawit dapat diolah menjadi produk bernilai jual tinggi," ujar perwakilan BPDP, dikutip dari keterangan tertulis, Sabtu, 20 Juni 2026.

BPDP menjelaskan lidi sawit memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai ekonomi, baik sebagai bahan baku ekspor maupun aneka kerajinan bagi pelaku UMKM.

Selain itu, BPDP saat ini memiliki sejumlah program strategis untuk meningkatkan kapasitas dan produktivitas petani sawit, antara lain Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), program sarana dan prasarana, pengembangan sumber daya manusia perkebunan, penelitian dan pengembangan, serta promosi perkebunan.

Keberhasilan ekspor perdana ini menunjukkan komoditas sawit memiliki manfaat yang dapat dirasakan secara luas, mulai dari petani, perempuan, pemuda, UMKM, koperasi, hingga pelaku ekspor.

"Rantai pasok produksi lidi sawit melibatkan banyak pihak, mulai dari petani, pengrajin, koperasi, hingga pelaku ekspor, sehingga mampu memberikan efek ganda terhadap penyerapan tenaga kerja dan peningkatan ekonomi daerah," papar dia.
 

Baca juga: Gudang SRG Berbasis Rel Perkuat Logistik Komoditas Nasional


(BPDP bersama ASPEKPIR Indonesia melepas ekspor perdana 28 ton lidi sawit ke Tiongkok. Foto: dok Istimewa)
 

Libatkan ribuan anggota koperasi


Ketua Umum ASPEKPIR Setiyono mengatakan ekspor perdana ini merupakan tindak lanjut dari berbagai program pemberdayaan UMKM yang telah dijalankan bersama BPDP di sejumlah wilayah Riau dan Sumatra Utara.

Menurut dia, sedikitnya tujuh koperasi anggota ASPEKPIR terlibat dalam penyediaan bahan baku lidi sawit yang diekspor ke Tiongkok. Manfaat ekonomi dari kegiatan ini diperkirakan dirasakan sekitar 2.800 anggota koperasi.

"Ekspor perdana ini membuktikan lidi sawit yang selama ini kurang dimanfaatkan ternyata memiliki nilai ekonomi tinggi. Kami berharap semakin banyak petani sawit yang tertarik menjadikan pengumpulan dan pengolahan lidi sawit sebagai sumber penghasilan tambahan," kata Setiyono.

Direktur Utama PT Arra Setya Abadi Ilham Setiadi menambahkan pihaknya bersama ASPEKPIR dan BPDP terus melakukan sosialisasi serta pendampingan pengembangan ekspor lidi sawit sejak akhir 2024.

Menurut Ilham, permintaan pasar internasional terhadap lidi sawit terus menunjukkan tren positif, sehingga peluang pengembangan usaha ini masih terbuka luas bagi petani dan UMKM di sentra perkebunan sawit.

Pada kesempatan yang sama, perwakilan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Sumatra Utara menyampaikan apresiasi atas keberhasilan ekspor perdana tersebut dan berharap langkah serupa dapat menjadi inspirasi bagi pelaku usaha lain.

"Sumatra Utara memiliki potensi besar untuk mengembangkan berbagai produk turunan berbasis limbah kelapa sawit, termasuk lidi sawit. Kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, organisasi petani, dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan ekspor seperti ini," ujar dia.

Pengembangan produk lidi sawit dinilai menjadi bukti sektor sawit mampu mendukung prinsip ekonomi sirkular dan pembangunan berkelanjutan. Pemanfaatan pelepah dan biomassa sawit sebagai bahan baku produk UMKM membantu mengurangi limbah sekaligus menciptakan nilai ekonomi baru bagi masyarakat di sekitar perkebunan.

Selain pelepasan ekspor perdana, BPDP dan ASPEKPIR juga menggelar workshop praktik ekspor lidi sawit di Langkat, Sumatra Utara. Workshop yang diikuti 100 peserta itu ditandai penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara koperasi sawit dan pelaku ekspor untuk meningkatkan produksi lidi sawit siap ekspor.

(Husen Miftahudin)