Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan. Foto: Antara.
Barito Utara Naikkan Status Karhutla Jadi Tanggap Darurat hingga 2 Oktober
Silvana Febiari • 18 September 2026 10:34
Barito Utara: Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Barito Utara, Kalimantan Tengah, menaikkan status menjadi tanggap darurat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Status itu berlaku mulai 18 September hingga 2 Oktober 2026.
"Peralihan status ini harus kita maknai sebagai bagian dari upaya memperkuat kesiapsiagaan dan kewaspadaan. Meskipun kondisi kedaruratan dapat berangsur membaik, potensi terjadinya karhutla tetap harus kita antisipasi,” kata Bupati Barito Utara Shalahuddin, dilansir dari Antara, Jumat, 18 September 2026.
Menurut Shalahuddin, perubahan status dari siaga menjadi tanggap darurat ini harus dimaknai sebagai bagian dari upaya memperkuat kesiapsiagaan dan kewaspadaan seluruh pihak terhadap potensi karhutla.
Berbagai faktor yang dapat memicu dan memperluas kebakaran perlu menjadi perhatian bersama. Faktor tersebut meliputi kondisi cuaca dan curah hujan, tingkat kekeringan vegetasi dan lahan, titik rawan kebakaran, serta aktivitas masyarakat yang berpotensi menimbulkan sumber api.
"Pencegahan harus menjadi prioritas utama dalam penanganan karhutla. Penanganan yang cepat memang sangat diperlukan ketika kebakaran terjadi, tetapi upaya mencegah munculnya titik api akan jauh lebih efektif dalam mengurangi dampak yang ditimbulkan,” ungkap Shalahuddin.
Shalahuddin meminta seluruh jajaran terkait terus melakukan pemantauan, deteksi dini, pencegahan dan penanganan secara cepat serta terkoordinasi.
“Setiap informasi mengenai potensi maupun kejadian karhutla harus segera ditindaklanjuti, sehingga api dapat dikendalikan sedini mungkin dan tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas,” tuturnya.

Bupati Barito Utara Shalahuddin (Kiri) didampingi Sekda Muhlis dan dihadiri unsur FKPD, dinas instansi terkait serta camat di daerah setempat pimpin rakor dalam rangka pencegahan dan penanganan karhutla di Muara Teweh, Kamis, 17 September 2026. ANTARA/HO-Diskominfosandi Barito Utara
Shalahuddin juga menekankan pentingnya memastikan seluruh sumber daya yang dimiliki pemerintah daerah dan unsur terkait berada dalam kondisi siap digunakan apabila sewaktu-waktu diperlukan.
“Keberhasilan penanggulangan karhutla tidak hanya ditentukan oleh kemampuan memadamkan api, tetapi juga oleh seberapa kuat kita melakukan pencegahan dan seberapa cepat kita merespons setiap potensi ancaman,” ucap Shalahuddin.
Ia menjelaskan ancaman karhutla di daerah ini mendapat perhatian serius pemerintah daerah. Kondisi tersebut semakin perlu diantisipasi menyusul prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai fenomena El Nino yang diperkirakan berlangsung hingga awal 2027.
Seluruh perangkat daerah dan unsur terkait harus meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi karhutla. Terutama di tengah kondisi cuaca yang cenderung kering.
“Kita harus meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan. Jangan sampai ketika api sudah membesar baru kita bergerak. Pencegahan, deteksi dini dan respons cepat harus menjadi perhatian bersama,” papar Shalahuddin.