Kodam XX Imam Bonjol Uji Forensik Peluru Nyasar yang Lukai 2 Warga Sipil di Padang

Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) XX/Tuanku Imam Bonjol Kolonel Kav Taufiq membesuk korban peluru nyasar yang dirawat di Kota Padang, Kamis, (4/6/2026). Antara/Fandi Yogari

Kodam XX Imam Bonjol Uji Forensik Peluru Nyasar yang Lukai 2 Warga Sipil di Padang

Whisnu Mardiansyah • 4 June 2026 20:15

Padang: Komando Daerah Militer (Kodam) XX/Tuanku Imam Bonjol menyampaikan hingga saat ini masih melakukan uji forensik balistik atas insiden peluru nyasar yang mengenai dua warga sipil di kawasan Universitas Negeri Padang (UNP), Sumatra Barat.

"Untuk proyektil masih dalam uji forensik dan tim investigasi masih melakukan olah tempat kejadian perkara," kata Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) XX/Tuanku Imam Bonjol, Kolonel Kav Taufiq, di Kota Padang, seperti dilansir Antara, Kamis, 4 Juni 2026.

Dalam investigasi tersebut, Kodam XX/Tuanku Imam Bonjol juga bekerja sama dengan tim dari Jakarta, terutama dalam hal uji balistik. Saat ini, TNI terus bekerja dan mengumpulkan berbagai informasi yang dibutuhkan.

Kapendam tidak menampik peluru nyasar bisa saja berasal dari personel TNI yang pada saat kejadian sedang melaksanakan latihan menembak di Lapangan Tembak Lapai, Kota Padang.

"Ada kemungkinan tapi masih dilakukan uji forensik," katanya.
 


Kolonel Taufiq memastikan TNI akan bekerja secara profesional, transparan, dan akuntabel dalam mengungkap kasus peluru nyasar yang mengenai dua warga sipil pada Selasa, 2 Juni 2026, di kawasan Rektorat Universitas Negeri Padang.

Dari hasil investigasi awal yang disampaikan pada Rabu, 3 Juni 2026, Kapendam mengatakan proyektil yang mengenai korban diketahui berukuran sembilan milimeter. Pada saat peristiwa itu terjadi, Batalion Infanteri (Yonif) TP 897/Singgalang memang sedang menjalani latihan menembak.

Ia menyampaikan saat latihan, prajurit tidak hanya menggunakan senjata laras panjang, tetapi juga senjata laras pendek. Namun, tim investigasi masih membutuhkan waktu untuk mengecek proses pelaksanaan latihan hingga ke tempat kejadian perkara.


Ilustrasi Medcom.id

"Namanya menggali investigasi segala kemungkinan. Segala asumsi kita coba gali sedalam-dalamnya dan mudah-mudahan kita bisa menghasilkan suatu kesimpulan," harap dia.

Terakhir, apabila nantinya ditemukan adanya personel yang menyalahi standar operasional prosedur (SOP), maka akan diberikan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku.

"Intinya tidak usah takut, tidak usah khawatir kita akan transparan," ucap dia.

(Whisnu M)